.:: ASSALAMU'ALAIKUM PEMBACA YANG BUDIMAN * SELAMAT MEMBACA CATATAN-CATATAN SEDERHANA INI ::.
Tampilkan postingan dengan label Buku Bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Bagus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

MUHAMMAD, KISAH HIDUP NABI BERDASARKAN SUMBER KLASIK


Muhammad, sebuah nama yang tak habis-habisnya disebut. Sejak kelahirannya 14 abad yang lampau, dunia telah berubah cukup drastis karenanya. Dipuji dan dihormati baik oleh umatnya  maupun penganut kepercayaan lain  karena kemuliaan akhlaknya dan kepemimpinannya. Statusnya sebagai nabi akhir zaman tak dapat dipungkiri adalah tanda kebesaran pribadinya. Tak habis-habisnya para cendekiawan menulis tentangnya. 

Muhammad, itulah judul buku biografi (shirah) yang disusun oleh Martin Lings alias Abu Bakar Sirajuddin ini. Barangkali biografi susunan Martin Lings ini adalah karya kesekian ribu dan bukanlah yang terakhir yang bercerita tentang kehidupan Nabi Besar ini. Namun bukan berarti biografi ini monoton saja. Justru untuk ukuran masa kini, Martin Lings memberikan sentuhan klasik tapi dituturkan secara modern pada buku ini. Apa pasal?
Read More......

SERI BUKU TEMPO : ORANG KIRI INDONESIA


Sebagian besar dari pembaca tentu pernah membaca buku tentang peristiwa G30S (cukup saya sebut begitu mengingat polemik ini tak pernah menemui kejelasan dan rasanya cukup adil untuk tidak menyinggung suatu pihak). Setidaknya anda pernah membacanya dan mempelajari sejarahnya di institusi sekolah. Saya yakin anda tidak akan menemui sebuah kebaruan fakta jika anda membaca dari buku diktat dengan kurikulum dari Kemendiknas atau buku yang dipromotori oleh pemerintah. Terutama sekali buku-buku dari yang empunya Orde Baru. Itu hal yang lumrah, mengingat di Indonesia ini penulisan sejarah sebagian besar masih didominasi oleh “sejarah orang besar”.

Angin segar berhembus ketika reformasi bergulir. Fakta-fakta baru yang sebelumnya haram dituturkan mulai ramai dikaji. Sejumlah kemungkinan-kemungkinan baru pun bermunculan. Termasuk juga dari tangan peneliti-peneliti luar negeri, G30S menjadi objek yang tak habis-habis digali. Tulisan terakhir tentang G30S yang saya catat adalah dari tangan Julius Pour. Namun semuanya, baik dari zaman Orba hingga kemarin, hanya sebatas memelototi dari sudut pandang besar yang luas. Kebanyakan bicara dengan gaya merekonstruksi. Mengapa terjadi G30S? Siapa saja yang terlibat? Siapa saja korbannya? Atau sebenarnya G30S itu apa sih? Hanya stagnan di sekitar itu-itu saja. Jenuh dan sepertinya malah menggiring pada pemitosan G30S.

Dari beberapa buku-buku yang pernah saya amati, tidak ada yang mendalaminya secara lebih personal. Semuanya dipukul rata sebagai “objek benda” sejarah. Bukan sebagai manusia yang turut membuat sejarah. Nah, ditengah-tengah pola monoton inilah buku hasil investigasi dari majalah TEMPO yang menghadirkan para “orang kiri” ini menjadi penting. TEMPO memberikan perspektif dan warna yang baru dalam memandang para “tersangka” G30S. Lebih menarik lagi bahwa sebagai sebuah karya berbau sejarah, seri buku Orang Kiri Indonesia bukanlah lahir dari metodologi sejarah yang lazim, tetapi lahir dari jurnalisme investigasi yang khas.  
Read More......

Jumat, 30 April 2010

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels; Pram’s Last Masterpiece


Bisa dibilang Pramoedya Ananta Toer adalah novelis terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia. Banyak karya-karyanya yang memukau banyak kalangan. Apalagi jika kita membaca tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang merupakan masterpiece-nya. Sudah sekitar 50 karya lebih yang telah lahir dari tangan dinginnya. Gaya ucapnya khas dan mempribadi tetap konsisten, termasuk ketika beliau memasuki usia yang begitu sepuh. Dan kali ini saya coba untuk meresensi karya terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas terakhir pada 30 April 2006, “Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels” (selanjutnya disebut JRD).

Kali ini Pram (sapaan akrab beliau) tidak sedang menulis sebuah novel untuk pembaca setianya. JRD merupakan sebuah reportase sejarah tentang pembangunan Jalan Raya Pos yang diprakarsai Maarschalk en Gouverneur General Meester Herman Willem Daendels pada 1809. Reportase yang disajikan dalam bertuk tuturan perjalanan ini bisa katakan sebagai pesan terakhir Pram untuk bangsa Indonesia. Sebuah tulisan bernada satire tentang bangsa Indonesia yang kaya tapi lemah dan terjajah.

Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal sebagai Jalan Daendels merupakan proyek yang sangat prestisius saat itu. Membentang 1000 kilometer di bagian utara Pulau Jawa dari Anyer di Provinsi Banten saat ini Hingga Panarukan di Jawa Timur. Dibangun “hanya” dalam waktu satu tahun dengan mengerahkan tenaga rodi rakyat Hindia Belanda yang tak berdosa. Pembangunannya yang demikian ini menjadikan proyek ini sebagai salah satu tragedi genosida terbesar dalam sejarah Hindia Belanda. Diperkirakan 12.000 (ini hanya angka perkiraan yang dibuat pemerintah kolonial Inggris, bisa saja lebih) rakyat tak berdosa tewas karena kerja paksa dan wabah malaria selama pembangunan jalan ini. Sebuah peringatan untuk kita para generasi penerus.

Pram dengan begitu teliti menampilkan data-data historis yang begitu detail berikut pengalaman-pengalamannya dalam buku ini. Secara sekilas namun intens, Pram juga menyisipkan kisah-kisah genosida yang pernah menimpa bangsa ini, baik oleh kaum penjajah maupun oleh bangsa Indonesia sendiri. Secara runtut Pram menjelaskan proses pembangunan Jalan Daendels sejak dari titik nol di Anyer hingga Panarukan. Dari kota ke kota Pram menyajikan fakta-fakta menarik dan data-data historis tentang proses pambangunan jalan ini. Dan ternyata Jalan Daendels bukanlah sebuah jalan “baru” yang dibangun oleh Daendels. Beberapa ruas jalan telah ada sejak berabad-abad sebelum orang Eropa menginjakkan kakinya di Pulau Jawa. Daendela hanya memperlebar dan memperbaiki infrstruktur jalan sehingga dapat dilalui segala jenis kendaraan. Data-data mengenai jalan kuno tersebut dengan metode penuturan disajikan dengan sangat baik oleh Pram.

Tidak berbeda jauh dengan karya-karyanya yang lahir sejak 1950-an, JRD juga cukup kental nuansa “kiri”-nya. Hal ini tentu saja tak lepas dari pandangan politik Pram yang kontroversial dan kekiri-kirian. Hanya saja intensitasnya tak seberapa jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang terdahulu. Jika di perhatikan dengan seksama, beberapa kali Pram terasa tak fokus dan mengalihkan topik pembicaraan ke masalah lain yang kurang berhubungan dengan materi yang sedang dibahasnya. Hal ini dapat kita temui di beberapa bagian buku ini. Untuk pembaca yang kurang sabar barangkali akn menimbulkan kebingungan. Namun begitu, karya kecil Pram ini patut kita beri apresiasi yang terhormat. Di masa senjanya Pram masih mampu menyajikan sebuah reportase sejarah yang sedemikian detail dan cukup akurat. Sebuah prestasi yang tak banyak dimiliki penulis-penulis negeri ini.

Seperti halnya nasib bangsa ini di msa lalu, Pram sendiri merupakan sosok penulis Indonesia yang kontroversial dan penuh vitalitas. Dikucilkan oleh komunitas sastrawan karena track record-nya sebagai budayawan LEKRA yang vokal dan tak kenal kompromi, tapi juga dipuji karena kualitas karya-karyanya yang mendunia. Selamat membaca.

Mandalawangi, 23 April 2010

Read More......

Senin, 29 Maret 2010

Hadiah Ulang Tahun Buat Gie

        Saya lupa waktu itu tanggal berapa, yang jelas saat itu bulan Desember hari Jumat. Sekitar pukul 22.30 saya baru saja menyelesaikan tugas sekolah, lalu karena belum ingin tidur saya putuskan untuk nonton TV sambil ngopi. Saya baru sadar saat itu ada acara favorit saya, Kick Andy. Tak mau ketinggalan acara tersebut segera saya alihkan channel ke Metro TV. Untunglah acara talkshow itu belum usai. Tapi saya agak menyesal tidak bisa mengikuti sejak awal apalagi topik yang dibahas saat itu sangat saya gandrungi. Kick Andy saat itu membahas tentang sosok Soe Hok Gie setelah 40 tahun kematiannya. Dari situlah saya dapat info tentang buku ini. Malam itu saya berjanji pada diri saya sendiri, dalam seminggu ini saya harus hunting dan mendapatkannya. Dan akhirnya keberuntungan menghampiri saya, hari minggu saya hunting ke Togamas dan alhamdulillah saya mendapatkannya. Lebih bangga lagi, ternyata saya adalah pembeli buku ini yang pertama di Kediri (saat itu baru dua hari setelah launching buku dan Togamas Kediri hanya punya 1 eksemplar). Hehehe ….

        SOE HOK-GIE …Sekali Lagi (selanjutnya saya singkat SHGSL) adalah sebuah memoar tentang Hok-Gie dari berbagai sudut pandang. Secara umum SHGSL terbagi dalam lima bagian. Bagian pertama tentang kisan perjalanan terakhir Gie dan kawan-kawannya ke Semeru yang berujung kematiannya dan Idhan Dhanvantari Lubis, 16 Desember 1969. Dikisahkan panjang lebar oleh Rudy Badil, seorang kawan dekat Gie yang ikut dalam pendakian Semeru yang juga editor SHGSL.

        Bagian kedua adalah tulisan-tulisan kawan-kawan Gie tentang ingatan mereka pada sosok Gie dan kecintaannya mendaki gunung. Di selingi kisah-kisah menarik tentang pendakian ke Semeru. Bagian ketiga masih diisi oleh kawan-kawan dekat Gie. Dalam bab ini diceritakan secara intens pengalaman-pengalaman mereka semasa berorganisasi di UI kurun 1960-1969 bersama Gie. Merekalah saksi dan eksponen mahasiswa yang ikut andil meruntuhkan rezim orde lama.

        Bagian keempat diisi oleh mereka-mereka yang oleh Gie disebut sebagai “The Angry Young Men”. Kebanyakan adalah mantan aktivis mahasiswa dekade 80-an dan anak muda-anak muda yang terinspirasi oleh Gie. Dan pada bagian kelima pembaca sekalian disuguhi tulisan-tulisan Gie yang revolusioner yang pernah diterbitkan di berbagai media massa. Lengkap rasanya jika disebut sebagai sebuah memoar. Dan dengan terbitnya SHGSL ini semakin mengukuhkan siapa Gie sebenarnya.

       Kebanyakan tulisan-tulisan di SHGSL bergaya cerita atau sebuah refleksi. Bagi pembaca yang telah tuntas membaca Catatan Seorang Demonstran (CSD), akan sangat lengkap lagi jika membaca buku ini. Jika kita melihat sosok Gie sebagai individu dalam CSD, maka kehadiran SHGSL merupakan potret Gie sebagai seorang manusia di mata manusia lain. Ada nuansa keakraban dalam tulisan-kawan-kawannya, juga rasakan betapa Gie punya pengaruh kuat bagi anak muda-anak muda sesudahnya. Bagi pembaca yang punya hobi sama dengan Gie, naik gunung, barangkali pengalaman Gie dan kawan-kawannya bisa jadi penyemangat tersendiri bagi anda.

        Jika bicara masalah kekurangan buku, hanya satu catatan saya setelah membaca buku ini. Hampir semua kontributor buku ini melihat sosok Gie dalam kerangka yang sangat perfect. Terkesan hanya sisi positif Gie saja yang menonjol. Gie telah bertransformasi menjadi sosok yang kudus dan selalu sempurna, sehingga pada titik tertentu pembaca akan merasa bosan. Dengan mudah pembaca bisa menebak ke mana arah pembicaraan penulis dalam memandang sosok Gie. Lalu sedikit kejanggalan kecil saya rasakan ketika membaca tulisan pengantar dari Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Arah pembicaraan rasanya jadi berbelok menjadi promosi universitas.

        Terlepas dari itu semua, bagi anda yang memang mengidolakan Gie akan sangat rugi jika tidak membaca buku ini. Setelah membaca CSD, pembaca akan lebih memahami lagi sosok Gie melalui SHGSL ini. Tepat kiranya jika buku ini disebut sebagai hadiah ulang tahun buat Gie. Selamat membaca.

Mandalawangi, 29 Maret 2010



Read More......

Rabu, 20 Mei 2009

TENTANG TIGA KERAJAAN


Waktu itu, sekitar bulan November 2008. Saya mengikuti sebuah kompetisi sastra di UNESA. Lalu saat waktu senggang menunggu giliran kompetisi saya dan teman-teman saya jalan-jalan ke Super Mall Pakuwon Indah. Seperti biasa, saya langsung mencari toko buku. Kebetulan di Pakuwon ada toko buku Gramedia. Akhirnya saya dan teman-teman menghabiskan waktu mencari buku di situ. Dan saat saya melewati etalase buku-buku sejarah saya tertarik dengan buku bersampul hijau dengan ilustrasi kartun yang menarik. Pertama saya heran. Mengapa ada komik di etalase buku sejarah? Apa mungkin petugasnya salah menempatkan? Karena rasa penasaran itu saya mengambil satu eksemplar yang disediakan untuk dibaca. Judulnya “TIGA KERAJAAN; Kerja Sama, Strategi, dan Kebijaksanaan”.

Begitu saya buka, saya langsung tertarik dengan isinya. Sebuah legenda kuno Tiongkok. Merupakan repro dari sebuah novel klasik Tiongkok kuno yang disusun menjadi novel grafis yang kaya ilustrasi. Sekilas, saya lihat ilustrasinya begitu hidup. Karena tambah penasaran dan ingin membacanya, saya putuskan untuk membelinya. Jarang sekali ada buku seperti ini.

The Three Kingdoms (Tiga Kerajaan) adalah salah satu karya klasik monumental dari peradaban kuno Tiongkok yang paling terkenal. Merupakan satu dari empat karya klasik Tiongkok yang termasyur (karya lainnya adalah : Dream of the Red Chamber-Mimpi Kamar Mereah, Journey to the West-Perjalanan ke Barat, dan Water Margin-Tepi Air). Pertama kali ditulis menjadi sebuah kronik sejarah tentang transisi antara Dinasti Han dan Dinasti Jin oleh Chen Shou. Ditulis pada awal pemerintahan Dinasti Jin berjudul Records of the Three Kingdoms. Lalu pada masa Dinasti Ming kronik ini digubah lagi oleh Luo Guanzhong (1330-1400) seorang penulis novel dan naskah drama terkemuka pada masa Dinasti Yuan terakhir dan awal Dinasti Ming. Oleh Luo Guanzhong Records of the Three Kingdoms ditambahkan dengan catatan-catatan sejarah, resmi dan tidak resmi, dan juga dongeng-dongeng. Muncullah dari tangan Luo Guanzhong ini The Three Kingdoms- Tiga Kerajaan dengan komposisi 70% kisah nyata dan 30% fiksi.

Dan di zaman modern ini wiracerita Tiga Kerajaan yang masyur itu susun lagi menjadi sebuah novel grafis yang menarik oleh Huang Qingrong, ilustrator kelahiran Malaysia. Bagi pembaca yang merasa cepat bosan membaca sejarah, saya pastikan anda akan menjadi betah berlama-lama memelototi ilustrasi Qingrong yang begitu hidup dan natural. Dan dengan cerdik Huang Qingrong menampilkannya dalam sepuluh fragmen cerita yang terkenal di Tiongkok sana. Diawali pada masa-masa perang saudara pada masa akhir Dinasti Han hingga munculnya kaisar pertama dinasti Jin yang menyatukan Tiga Kerajaan.

Diawali dengan cerita tentang sumpah persaudaraan di kebun persik oleh tiga pendiri kerajaan Shu, merekalahLiu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei. Lalu dijelaskan pula dengan latar belakang pendiri kerajaan Wei yang kelam, Cao-Cao. Pada awal-awal cerita tiga bersaudara ini berkompetisi dengan Cao-cao yang licik. Konflik ini semakin meruncing ketika muncul Sun Quan yang mendeklarasikan Kerajaan Wu. Liu Bei kemudian ikut pula mendirikan kekaisaran Shu dan Cao-Cao mendirikan Kerajaan Wei. Saat inilah tampil seorang pemikir ulung yang menjadi simbol kebijaksanaan Tiongkok selama berabad-abad, Zhuge Liang. Ia menjadi penasihat Liu Bei dalam berbagai pertempuran. Kisah kecerdikan Zhuge Liang ini begitu terasa ketika pembaca masuk dalam salah satu fragmen paling terkenal dari kisah Tiga Kerajaan, itulah kisah Pertempuran Tebing Merah.

Perlahan tapi pasti, Zhuge Liang mengalahkan satu persatu musuh kerajaan Shu. Sampai akhirnya cerita memasuki masa-masa berkabung dengan matinya tokoh-tokoh utama dalam wiracerita ini. Kemudian ketika Wu sudah kehilangan supremasinya, tinggallah Zhuge liang bertempur sendiri melawan Wei yang juga mulai melemah. Saat Liu Bei meninggal, ia mempercayakan nasib Shu dan putranya, Ah Dou, kepada Zhuge Liang. Dan pada saat itulah Shu kian menunjukkan keunggulannya. Namun semua surut dengan cepatnya ketika Zhuge Liang mangkat dan Ah Dou, yang masih terlalu muda dan lebih suka bersenang-senang menggantikannya. Shu benar-benar hancur ketika Sima Zhao, anak dari jendral besar Wei Sima Yi, berhasil menggerogoti Shu dengan politiknya yang licik. Wu sudah tak bisa bersuara lagi, Shu sudah dalam genggaman Sima Zhao. Dan akhirnya keluarga Sima semakin berkuasa ketika anak Sima Zhao, Sima Yan, merebut tahta dari kaisar Wei yang lemah. Muncullah Sima Yan sebagai kaisar yang menyatukan Tiga Kerajaan dalam genggaman Dinasti Jin.

Setelah membacanya berkali-kali saya begitu tertarik dengan fragmen Pertempuran Tebing Merah. Penuh intrik dan strategi perang yang mengagumkan. Mungkin daya tarik terbesar kisah ini adalah pada fragmen Tebing Merah ini. Dan secara keseluruhan saya benar-benar menikmati liku-liku kisah ini. Jalan cerita yang sulit ditebak plus deskripsi yang keren menjadi daya tarik tersendiri kisah Tiga Kerajaan ini. Namun begitu tetap saja ada kelemahan dalam novel grafis ini. Saya mengkritisi terutama pada penggambaran adegan perang yang menunjukkan pembantaiaan dan perkelahiannya. Huang Qingrong menampilkan semua itu secara gamblang dan terbilang sadis. Agaknya hal ini bisa membuat pembaca yang masih dibawah umur harus dibimbing dalam mencermati isi novel ini. Kekurangan lainnya adalah pada sisi penceritaan yang kadang diramu dengan kalimat-kalimat yang membingungkan dan di beberapa tempat terasa alurnya meloncat-loncat dan tidak jelas. Huang Qingrong juga kurang konsisten dengan tempo ceritanya. Terasa lambat dan membosankan dibagian awal lalu meloncat-laoncat dan terlalu cepat ditengah-tengah. Apalagi akhir ceritanya kurang memberi greget karena dibuat datar-datar saja.

Lepas dari itu semua novel grafis ini dengan caranya sndiri sangat potensial menarik pembaca dari berbagai segmen. Menjadikan kisah sejarah bukan lagi sesuatu yang membosankan dan kering. Karya ini sangat pas kiranya menjadi inspirasi bagi penulis-penulis Indonesia yang masih berkutat pada novel konvensional yang penuh teks. Selamat membaca.

Mandalawangi, 15 Mei 2009
Read More......

Senin, 11 Mei 2009

BUKU CATATAN ORANG INDONESIA TULEN


Barang kali judul buku ini diambil dari salah satu puisi Taufiq Ismail dalam antologi “Tirani dan Benteng”. Saat ini sangat sulit sekali menemukan buku ini di toko buku. Saya sendiri hampir satu tahun mencari buku ini, dan akhirnya ketemu di Shopping (sebuah pasar buku) di Yogayakarta. Hanya dua kali saya menjumpai buku ini. Yang pertama tentu saja di Yogyakarta tadi, dan di toko buku di area kampus UIN Supel Surabaya. Heran juga tidak menemukan buku ini di toko buku bonafit macam Togamas dan Gramedia. Padahal isinya sangat bagus buat para pemuda Indonesia.

“Catatan Seorang Demonstran” merupakan buku harian Soe Hok Gie. Anda belum kenal Gie? Kalau pembaca adalah seorang mahasiswa, sangat disayangkan sekali jika anda tidak mengenal seorang Gie. Kenapa begitu? Karena dulu saaat saya bertemu dengan seorang pedagang koran dan saya ngobrol dengannya, ia malah cerita tentang Gie. Ini bukan bualan, ia tukang koran kenalan saya ini sangat mengenal Gie. Tapi itu bukanlah masalah penting. Yang penting adalah mulailah mengenal seorang Soe Hok Gie, seorang pelopor gerakan mahasiswa UI tahun 66 saat peristiwa G 30 S meletus di Jakarta. Ia adalah orang yang jujur, berani, tegas, dan ulet. Lebih dari itu ia adalah orang Indonesia “lahir-batin”.

Dan salah satu jalan mengenalnya adalah dengan membaca buku ini. Sebuah catatan harian yang ditulis saat Gie berumur sekitar 15 tahun sampai 2 hari sebelum ia meninggal di usianya yang ke 27. Isinya sangat menarik dan dengan cukup detail memotret kegelisahan dan liku hidup pemuda-pemuda Indonesia menjelang keruntuhan rezim orde lama. Gie dengan gaya tulisannya yang khas, bercerita tentang sekolahan, pengemis di jalan, pesta, demonstrasi mahasiswa tahun 66, pendakian gunung, dan suasana kisruh politik saat itu. Tak lupa pula ia bercerita tentang cinta. Catatan-catatannya bisa saya katakan sebuah fragmen-fragmen sebuah novel kehidupan. Menarik sekali.

Banyak sekali cuplikan-cuplikan peristiwa yang sangat menarik dalam buku ini. Salah satunya adalah ketika Gie bertemu dengan seseorang yang jika dilihat dari pekaiannya bukanlah seorang pengemis. Gie menceritakan bahwa orang itu memakan kulit mangga karena lapar. Peristiwa yang sangat biasa barangkali, tapi akan jadi sangat miris jika peristiwa ini terjadi dekat sekali dengan istana kepresidenan yang glamor. Dan Gie benar-benar mengalaminya. Betapa kontrasnya kehidupan seorang rakyat Indonesia yang punya kekayaan alam berlimpah tapi kelaparan dan para elit politik yang berfoya-foya dengan istri-istrinya di istana. Sebuah sentilan kritis dan tajam kepada pemerintahan Soekarno waktu itu. Peristiwa ini benar-benar membekas di hati Gie. Setelah peristiwa ini, catatan-catatannya benar-benar merupakan kegelisahan seorang rakyat Indonesia yang mendapati ketidak adilan di sekelilingnya.

Catatn-catatannya bersifat reflektif dan spontan. Terasa sekali kejujuran seorang Gie. Namun karena spontanitas inilah kadang-kadang tulisannya terasa agak ngawur dan memihak. Atau beberapa catatatannya yang terkesan seenaknya sendiri. Agak mengganggu juga awalnya. Tapi mungkin itulah efek dari kejujurannya sebagai seorang mahasiswa.

Pertama kali muncul dalam edisi stensilan yang dipelopori oleh beberapa kawannya. Lalu setelah melewati masa sepuluh tahun tanpa kejelasan, pada tahun 1983 buku ini diterbikan oleh LP3ES. Sempat menjadi buku paling laris di tahun-tahun awal penerbitannya. Namun lama-lama buku ini seperti menghilang ditelan zaman. Sampai Riri Riza dan Mira Lesmana barinisiatif mengangkat kisah hidup Gie yang singkat itu menjadi sebuah film bertajuk “GIE”. Sangat tepat kiranya jika LP3ES menerbitkannya lagi dan mendistribusikannya secara lebih luas di toko-toko buku sekaliber Togamas dan Gramedia. Sayang sekali jika buku-buku langka seperti ini (saya kira di Indonesia, buku seperti ini hanya ada dua. Yang satu lagi adalah catatan harian seorang santri bernama Ahmad Wahib asal Madura) tidak terjamah oleh pemuda-pemuda kita yang butuh inspirasi.

Mandalawangi, 8 Mei 2009
Read More......

Rabu, 11 Maret 2009

NOVEL YANG MELAWAN ARUS


Judul : Student Hijo
Penulis : Marco Kartodikromo
Penerbit : Yayasan Aksara Indonesia (cetakan pertama, 2000)
Tebal : 212 halaman

Pertama kali dipublikasikan tahun 1918 dalam bentuk cerbung pada surat kabar Sinar Hindia. Barulah pada tahun 1919 novel ini diterbitkan oleh NV Boekhandel en Drukken, MASMAN & STROINK, Semarang. Baru kemudian dicetak ulang oleh Yayasan Bentang Budaya (2000) dan Yayasan Aksara Indonesia (2000). Untuk novel yangb saya ulas berdasarkan terbitan Yayasan Aksara Indonesia. Awalnya saya membelinya hanya karena desain covernya yang oldies. Tapi setelah membacanya sampai habis, memang novel ini cukup bagus dan “melawan arus” jika dibandingkan novel seangkatannya yang kebanyakan terbitan Balai Pustaka. Jika novel-novel Balai Pustaka berbicara tentang benturan budaya barat dan timur dengan gaya romantiknya yang khas, maka novel ini justeru menonjolkan latar timurnya (budaya jawa) yang kental.


Novel ini berkisah tentang Hijo anak Raden Potronoyo, bangsawan dari Solo, yang akan disekolahkan ke Belanda. Awalnya rencana ini ditentang oleh ibu Hijo, Raden Nganten Potronoyo, tapi akhirnya Hijo tetap berangkat ke Belanda. Sebenarnya Hijo pun merasa berat untuk pergi karena ia akan sangat rindu pada R. A. Biru, tunangnnya. Di Belanda Hijo menyadari bahwa Negeri yang menjajahnya bukanlah negeri super, sama saja dengan negeri merdeka lainnya. Sehingga ia tidak canggung untuk berhubungan dengan Betje, putri ibu kosnya di Belanda yang akhirnya membuatnya menyesal.

Meski begitu, hati Hijo tetap terkenang akan RA Biru dan RA Wungu, putri bupati Jarak kenalannya. Sementara itu di Hindia Belanda, keluarga Potronoyo berkenalan dengan keluarga bupati Jarak. Dan secara kebetulan RA Wungu dan R Wardoyo, putra bupati tersebut juga mengenal Hijo. Dan seorang Controleur bernama Willem Walter jatuh cinta dengan Wungu bahkan sempat melamarnya tapi ditolak Wungu karena kecintaannya pada Hijo. Saat Walter mengambil cuti pulang ke Belanda, ia menyempatkan diri berkenalan dengan Hijo yang diketahuinya dari Wungu. Berkat bantuan Hijo Walter akhirnya mengenal Betje.

Pada akhirnya rumus perjodohan berubah. Biru akhirnya dinikahkan dengan Wardoyo dan Hijo dengan Wungu. Dengan cara yang romantis Mas Marco mengakhiri cerita pada bab XX seperti kutipan berikut :

Hijo telah kawin dengan RA Wungu, dan hidup senang menjadi jaksa di Jarak.
Wardoyo sudah jadi regent di Jarak menggantikan papanya, pun dia hidup rukun di dalam kabupaten dengan RA Biru.
Walter sudah kembali dari verlof menjadi asisten residen di Jarak, dan telah mempunyai istri, yaiyu Betje.
Dan onwijzeres nona Jet Roos telah berkawin dengan administrateur Bouren, sobat karibnya Willem Walter, dan sama bertempat di Jarak.

Jika anda jeli membaca, maka anda akan mendapat kesan bahwa novel ini sangatlah radikal. Secara menarik Mas Marco menyisipkan unsur-unsur politik dalam jalinan cerita yang cukup kompleks. Terasa sekali konflik internal dalam karakter setiap tokohnya. Seperti Hijo yang selalu teringat akan Biru dan Wungu meskipun ia berhubungan pula dengan Betje yang seorang gadis Belanda. Suatu gambaran tentang nasionalisme yang coba di tumbuh kembangkan saat itu. Atau Controleur Walter yang simpati pada perjuangan para bumi putera. Ia dengan keras membantah tuduhan-tuduhan Sergeant Djepris yang merendahkan bangsa Hindia Belanda. Rasanya Mas Marco ingin menunjukkan (atau mungkin berharap) bahwa bangsa Belanda pun masi punya “hati”. Atau tentang Wardoyo yang juga aktif di Sarekat Islam. Semua terjalin dengan rapi. Konflik itu akhirnya mengerucut dalam beberapa klimaks, tidak hanya satu klimaks, dengan orientasi masing-masing tokohnya. Menarik. Dan bagian yang paling menunjukkan bahwa novel ini memang novel perjuangan adalah sepucuk brosur yang diberikan Walter kepada Djepris. Isi brosur ini, kalau saya bilang, adalah suara perlawanan Mas Marco sendiri yang terpendam. Kemungkinan brosur inilah yang menjadi inti keseluruhan novel, hanya saja sedikit tersamar dengan klimaks-klimaks yang kompleks.

Bagi saya ada tiga hal mendasar yang sedikit mengganggu bagi pembaca yang kurang sabar. Pertama, tentu saja dalam hal pemakaian bahasa. Novel ini masih menggunakan gaya bahasa melayu yang kental, agaknya kurang familiar lagi untuk ukuran saat ini. Kedua, tempo. Di awal tempo novel ini terasa lambat namun ketika sampai di tengah hingga akhir novel tempo menjadi agak cepat. Yang satu ini membuat pembaca sedikit bosan dan bisa saja pembaca kehilangan kesan di akhir cerita. Ketiga, adanya perubahan pertunangan tanpa adanya konflik berarti antara subjeknya (Hijo, Biru, Wungu, dan Wardoyo). Justeru hal ini di sikapi dengan suka hati. Terasa janggal karena di awal cerita dikisahkan bahwa antara Hijo dan Biru sudah terikat cinta yang kuat.

Di balik kekurangan-kekurangan kecil itu, novel ini dengan sangat baik telah mencatat hiruk-pikuk suasana perjuangan bumi putera pada masa awal. Cinta, pendidikan, politik, sosio-kultur, dan bahkan semangat nasionalisme terjalin rapi dalam setiab babnya. Maka tidak berlebihan jika Nova Christina/Litbang KOMPAS memberi komentar pada rubrik pustakaloka (KOMPAS, Sabtu, 21 September 2002) bahwa, “Novel ini sebetulnya sudah membuka suatu soal bahwa kesusastraan bukan sekadar penghibur, tetapi suatu wacana politik dan sosial yang mengemban tugas menembus ruang-ruang publik. Pada gilirannya kesusastraan adalah jalan menuju pembebasan dari belenggu ketertindasan.” Selamat membaca.

Mandalawangi, 10 Maret 2009

Read More......
.:: TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA * SEMOGA BERMANFAAT UNTUK ANDA SEMUA * WASSALAMU'ALAIKUM ::.