.:: ASSALAMU'ALAIKUM PEMBACA YANG BUDIMAN * SELAMAT MEMBACA CATATAN-CATATAN SEDERHANA INI ::.
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Maret 2010

juru parkir

Setiap orang pasti punya ekspektasi tinggi mau kerja apa nantinya. Ada yang ingin jadi manajer, akuntan, guru, dan bahkan ada yang ingin jadi presiden. Sah-sah saja, dan sangat manusiawi. Apalagi kalau pekerjaan itu menguntungkan dari segi finansial. Saya pun punya keinginan seperti itu. Tapi entah mengapa beberapa hari yang lalu ada semacam pikiran dahsyat dalam otak saya. Dahsyat yang saya maksud bukanlah tentang pekerjaan yang mewah, tapi tentang substansi pekerjaan itu sendiri. Begini saja, daripada pembaca sekalian bingung, akan saya ceritakan saja pemikiran dahsyat saya.

Senin malam, tanggal 15 Maret 2010, saya mengantarkan ibu saya berobat. Pulangnya ibu meminta saya untuk mampir sebentar di sebuah apotek. Sebagai anak yang berbakti saya harus menurut ( ^_^ ).
Saya dan ibu akhirnya mampir di salah satu apotek di depan pasar Pahing. Ibu masuk sendiri ke apotek, saya tunggu di luar. Malam itu hujan rintik-rintik, tapi jalanan agak padat. Saat itulah tanpa sengaja saya melihat seorang dengan jas hujan warna biru mengatur sebuah mobil yang akan keluar dari parkir. Saya lalu mengalihkan pandangan ke pedagang ayam goreng (saya agak lapar waktu itu). Agak lama juga saya memperhatikan pedagang itu mengolah ayam dan menggorengnya. 

Tak berapa lama hujan berhenti dan jalanan jadi tambah padat. Setelah puas dengan tontonan ayam goreng saya mengalihkan pendangan lagi. Saya melihat seorang juru parkir (jukir) yang masih muda. Asumsi saya umurnya sekitar 25-27 tahunan. Kesan pertama saya energik dan ramah. Dengan setelan seragam jukir khas Dinas Perhubungan yang rapi dan selayaknya jukir di Indonesia, ia membawa peluit. Ia mengatur kendaraan-kendaraan yang parkir atau sekadar untuk putar arah. Sesekali jika bertemu jukir lainnya, ia tersenyum ramah. Saya perhatikan ia ketika ditanyai seseorang yang sudah tua dan tampak kebingungan. Dengan senyum ramah, ia menjawab setiap pertanyaan orang tua dan menolongnya menyeberang. Wah, alangkah keren sekali dia itu. Saya pikir-pikir, daripada jadi polisi yang kadang ditakuti lebih baik jadi jukir yang merakyat dan murah senyum. 

Lalu terlintaslah sebuah gagasan mahakeren dalam benak saya. Pekerjaan paling profesional di dunia ini adalah Juru Parkir. Bukan masalah tinggi rendahnya gengsi sebuah pekerjaan, tapi ini masalah integrasi. ini bukan masalah seberapa banyak duit yang kita peroleh, tapi soal seberapa banyak kita memberi manfaat untuk orang lain. Dan suatu saat saya akan coba untuk “berkarir” sebagai jukir.

Mandalawangi, 20 Maret 2010

Read More......

Minggu, 26 Juli 2009

SUPER HERO


Saya suka nonton film super hero. Dan beberapa waktu ini saya nonton lebih sering. Dare Devil, Spiderman, Batman, The Punisher, sampai Superman adalah super hero yang pernah saya lihat aksinya. Dan saya juga punya superhero favorit, yaitu Batman. Tapi mungkin tak banyak orang yang sadar bahwa film-film super hero itu bukan hanya sekadar pertunjukan special effect yang detail dan adegan-adegan yang menegangkan. Lebih dari itu, film-film itu juga memberikan pelajaran kepada kita. Dari film-film itulah saya banyak belajar memahami tanggung jawab, menentukan pilihan, merenungkan masa lalu dan menerawang masa depan, keberanian, ketegasan, dan beberapa sikap positif lainnya.
Para super hero selalu bersembunyi dibalik topengnya. Itu semua dilakukan untuk melindungi orang-orang terdekat yang mereka sayangi. Analogi yang umum mengatakannnya demikian, tapi kalau kita pahami lebih dalam analogi ini tak sepenuhnya benar (saya tak mau mengatakan itu salah). Begini analisis saya, sebenarnya mereka bukannya bersembunyi di balik topeng dan kostum super heronya. Mereka justeru bersembunyi dengan wajah dan jati diri yang sudah sering terlihat oleh orang banyak. Saya ambil contoh Batman. Ia bukanlah Bruce Wayne yang memakai kostum kelelawar untuk menutupi identitasnya, tapi justeru Batmanlah yang bersembunyi di balik wajah seorang Bruce Wayne. Saya belajar tentang jati diri di sini.

Bahwa kita bukanlah sekadar orang biasa dengan kostum atau apa yang sering orang lain lihat dari tampilan fisik kita. Jati diri kita yang sebenarnya adalah cerminan atas apa yang kita lakukan dan setiap langkah yang kita pilih. Jadi, Batman bukanlah seorang Bruce Wayne yang memakai kostum kelelawar atau milyader kaya pemilik Wayne Interprise. Batman adalah setiap tekad dan gerakan untuk menegakkan keadilan dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Atau Spiderman bukanlah seorang Peter Parker dengan kostum jaring dan kekuatan laba-labanya. Spiderman adalah setiap gerakan dan tanggung jawab yang mencegah merajalelanya ketidakbenaran. Secara lebih filosofis, jati diri kita adalah setiap tindakan dan pilihan kita untuk orang lain dan diri kita sendiri.
Selain itu ada pelajaran lain yang saya dapat. Bahwa membela dan menegakkan keadilan terkadang adalah sebuah kesalahan dan pilihan yang berat. Berbuat adil bukan berarti selalu dilakukan dengan cara yang “bersih”. Kadang kita harus menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Mengapa bisa demikian? Lihatlah apa yang dilakukan Batman atau Spiderman. Mereka berniat baik membasmi kejahatan dan mengembalikan ketentraman kota. Tapi menurut hukum, tindakan yang mereka lakukan adalah main hakim sendiri. Dan tentu saja tidak pernah diperkenankan oleh undang-undang konvensional manapun di bumi. Bahkan lebih ekstrem lagi, yang mereka lakukan adalah sama dengan para kriminala itu sendiri, bahkan sampai menimbulkan kerusakan massal. Lihat saja misalnya Batman. Meski jadi super hero dan banyak menangkap penjahat, tapi dia selalu jadi buronan polisi dan dicap sebagai kriminal. Mungkin hal itu memang cuma fiktif saja. Tapi bukan berarti itu semua tak mungkin. Terkadang memang keadilan itu kejam.
Baik Peter Parker maupun Bruce Wayne sebenarnya juga orang kebanyakan yang hidup dalam komunitasnya. Mereka hidup di tengah-tengah hiruk-pikuk kota dan memegang tanggung jawab atas apa yang mereka miliki. Sekuat apapun super hero itu, tetap saja mereka manusia. Di sini saya belajar tentang pilihan dan tanggung jawab. Peter Parker, Bruce Wayne, dan Clark Kent punya kehidupan pribadi dan orang-orang yang dicintai juga. Kekuatan besar yang mereka miliki telah dengan sangat bijak mereka manfaatkan untuk membela kebenaran. Tapi itu bukannya tidak punya konsekuensi. Ancaman terbesar mereka bukanlah musuh-musuh mereka, tapi justeru orang-orang terkasih mereka. Ketika Green Goblin tahu bahwa Spiderman dan Peter parker adalah jati diri yang sama, maka yang dilakukan untuk melumpuhkan Spiderman bukan dengan jalan menyerangnyasecara langsung. Akan lebih efektif bila yang diserang dulu adalah Mary Jane atau Bibi May, orang-orang yang sangat dicintai Peter Parker/Spiderman. Dan selalu saja, menyelamatkan orang orang terkasih itu juga dihadapkan pada ancaman terhadap keselamatan orang banyak. Di sinilah pilihan pelik itu, menyelamatkan kehidupan pribadi (dalam hal ini digambarkan dengan menyelamatkan kekasihnya) atau menyelamatkan orang-orang tak berdosa dan tak tahu apa-apa yang jadi korban kejahatan. Hal itu selalu saja terjadi bersamaan. Semua superhero akhirnya harus memilih mengorbankan kehidupan pribadinya atau tanggung jawabnya. Ini bukan pilihan mudah.
Tapi pada intinya saya menangkap sesuatu yang begitu urgen dari itu semua. Dalam Spiderman 2 saya kutip kata-kata ini : “SeirIng kekuatan yang besar, terdapat tanggung jawab yang besar”. Secara universal, yang disebut “kekuatan yang besar” bisa juga berarti jabatan, profesi, kedudukan kita dalam sebuah organisasi, kekayaan, kecerdasan, atau apalah itu. Kita selalu punya tanggung jawab.
*****

Di bagian akhir tulisan saya ini, ada sesuatu hal yang sangat tak serius yang ingin saya tunjukkan pada pembaca yang budiman. Saya membayangkan ada sebuah acara besar yang mengundang para super hero dan musuh-musuhnya. Dalam acara itu nantinya akan ada penghargaan khusus yang di berikan. Saya namai acara tak penting ini dengan sebutan “The 20th Century Super Heroes Awards”. Dan inilah daftar penghargaannya.

Super hero paling kuat : Superman
Super hero paling keren : Batman
Super hero paling pintar : Mr Fantastic (Fantastic 4)
Super hero paling dicintai masyarakatnya : Superman (di Metropolis City)
Super hero paling dibenci masyarakatnya : Batman (di Gotham City)
Super hero paling kaya : Batman (Bruce Wayne adalah pemilik Wayne Interprise)
Super hero paling miskin : Spiderman (Peter Parker selalu punya tunggakan sewa kontrakan)
Kostum paling bagus : Ironman
Super hero paling canggih : Ironman
Super hero paling brutal : The Punisher
Film Super hero paling bagus Batman Begins
Film Super hero paling buruk : Batman and Robin
Pekerjaan Super hero paling favorit : Wartawan (Clark Kent / Superman)
Musuh paling kuat : Galactus (musuh Fantastic 4)
Musuh paling keren : Green Goblin (musuh Spiderman)
Musuh paling pintar : Lex Luthor (musuh Superman)
Musuh paling sadis : Joker (musuh Batman)


Mandalawangi, 11 Juli 2009
Read More......

APA YANG SAYA PEROLEH DARI BLOG

Bulan Februari lalu saya dihubungi oleh guru TIK, Bu Nurul dan Bu Ajeng, untuk mengikuti lomba blog yang diadakan jurusan TIK Universitas Nusantara Kediri. Pertama, saya tentu heran. Saya saja mendengar kata “weblog” baru beberapa bulan ini, tahu-tahu sudah disuruh ikut lomba. Tapi dasar saya yang tak pernah pikir panjang, ya saya jawab mau tanpa saya tahu akan saya apakan blog saya nantinya. Dan karena Allah ternyata saya berhasil dapat juara 3. dari sejak itulah saya mulai berpikir lagi tentang “nasib” blog saya.
Awalnya senang juga bisa bikin blog dan nulis-nulis artikel. Dan karena ini di internet, tentunya tulisan saya bisa dibaca banyak orang. Dan rasanya menyenangkan. Akhirnya jadilah saya setiap minggu posting tulisan di blog ini. Saya tetapkan tema-tema tulisan saya, saya tidak ingin cuma sekadar nulisa tanpa maksud dan substansi yang jelas. Saya ingin tulisan saya benar-benar memberikan wawasan, walaupun sedikit. Dan selama tiga bulan ini saya banyak melakukan perubahan dengan blog saya. Mulai dari tampilan marque yang selalu gagal sampai coba-coba berafiliasi dengan Amazon.com. senang rasanya bisa melakukan itu semua.
Meski masih sedikit komentar yang saya peroleh dari tulisan-tulisan saya, saya tetap bersyukur dan berterima kasih ada yang mau membaca tulisan saya. Kenapa? Kata teman saya, tulisan yang ada di blog saya bisa dikatakan “berat” untuk ukuran remaja. Tapi memang itulah yang saya bisa tulis. Dan ternyata ada juga yang kasih komentar. Saya hargai itu semua.
Akhirnya setelah berpikir-pikir lagi, saya ingin terus menulis di blog ini. Dan saya akan tetap istiqomah dengan tulisan saya. Lalu, apa yang saya peroleh dari proses itu? Saya sendiri tak tahu pasti. Tapi sementara ini akan saya jawab, “yang saya peroleh dari blog adalah kepuasan dan manfaat yang besar”.

Mandalawangi, 23 Juni 2009


Read More......

Senin, 16 Maret 2009

POLITIK BUAT ANAK MUDA



Sebuah kebetulan pada hari jumat (13/3) saya melihat Rusda, ketua OSIS saya, membaca sebuah selebaran yang membahas tentang pemilih pemula. Saya meminjamnya dan membaca sekilas, menarik. Ternyata selebaran itu juga disertai dengan undangan dengan tulisan besar di kopnya : TEMU POLITIK KAWULA MUDA “PERAN PEMILIH PEMULA DALAM PEMILU”. Terasa sangat kota dan berat. Saya tertarik dan menawarkan diri untuk mengikuti acara tersebut. Ternyata Rusda menyetujuinya karena memang belum ada yang mau ikut acara itu.

Akhirnya saya mengajak teman sedesa saya untuk ikut tapi ia tak datang. Jadilah saya berangkat sendiri. Tempatnya di Insumo Palace. Sampai di Insumo saya langsung masuk aula dan check in. agak terkejut juga, saya dapat fasilitas yang bagus dan tampak mewah. Ya, tentu saja saya terkejut karena acara ini gratis. Lumayan, pikir saya. Sebelum acara dimulai saya sempatkan untuk berkenalan dengan peserta lain. Dan kami cepat akrab. Pesertanya sendiri berasal dari SMA/MA dan Universitas kota Kediri.

Acara dimulai dengan sangat mengesankan. Tak ada pembukaan secara resmi, tapi asyik juga karena tak perlu mendengarkan sambutan-sambutan yang bertele-tele. Pertama kali kami (saya dan peserta lainnya) diajak untuk menyanyikan lagu kerakyatan. Saya sebut lagu kerakyatan karena memang lagu-lagunya enak dicerna dan mencerahkan bagi rakyat yang awam sekalipun. Saya sangat bersemangat. Nanti di akhir tulisan ini akan saya tulis lagu-lagu yang kami nyanyikan itu. Baru setelah menyanyi bersama dan suasana jadi fresh acara intinya dimulai. Pembicaranya dari Friedrich Naumann Stiftung Indonesia (FNSI) dan anggota DPR RI Komisi Penegakan Hukum.

Sejak awal acara saya sangat interest. Temanya menarik, seputar demokrasi dan hak berpolitik. Pak Warsito dari FNSI menyampaikan pengantar tantang perspektif politik dan demokrasi. Panjang lebar beliau menjelaskan tentang arti sesungguhnya politik itu. Politik adalah semacam kerja pengabdian kepada masyarakat. Dan politik bukanlah barang mewah yang hanya kebiasaan elit pejabat. Politik adalah hak semua Rakyat Indonesia. Tanpa kecuali. Saya setuju dengan konsepsi beliau, hanya saja saya sedikit pesimis. Selama ini tak tampak gerakan yang berarti dari rakyat sendiri. Kalau pun ada, saya rasa itu demo. Dan saya lebih pesimis lagi karena tampaknya tendensi demonstrasi sekarang ini agaknya telah bergeser dari mainstream. Lebih kepada kepentingan golongan. Tampaknya konsepsi Pak Warsito ini masih dalam ranah idealis-teoritis. Dan pembaca tahu sendiri di masyarakat kita sudah mewacana bahwa politik adalah hal yang kotor. Tak kenal kawan tak kenal saudara, hanya kenal kemenangan dan kekuasaan. Sungguh ironis.

Pak Warsito menambahkan bahwa persepsi miring oleh masyarakat terhadap konsep politik sebetulnya bersumber dari lemahnya kontrol terhadap sistem politik dan oknum politisi. Hal ini secara nyata dapat kita lihat dari adanya istilah “politisi busuk”. Tapi sekali lagi saya sangsi dengan beliau. Sebabnya, kwalitas masyarakat kita saat ini tampaknya belum siap untuk tugas kontrol seperti kata beliau. Terlalu jauh dari pikiran rakyat kita yang sehari-hari mencangkul, tawar-menawar, dan tentu saja yang daerahnya terpencil. Tapi dengan kesangsian-kesangsian itu saya mendapat banyak ilmu yang berharga.

Pemateri kedua adalah Bu Eva dari DPR RI Komisi Penegakan Hukum. Bu Eva lebih banyak membahas tentang siapa itu yang kita sebut politisi busuk dan aspek ukuran politik yang bersih. Politik yang bersih, sungguh menari saya kira. Sesuatu yang langka dan “hampir punah” di tanah air. Beliau menekankan ukuran politik bersih itu setidaknya terlihat dari tiga sudut pandang yaitu : ilmu, etika, dan estetika. Ternyata banyak hal dalam politik yang saya rasa sangat khayal. Sungguh jauh dari otak masyarakat kita yang kebanyakan masih awam. Beliau menceritakan keprihatinannya melihat konstituen-konstituen yang mengajukan diri menjadi caleg. Sepertinya tak ada standar kwalitas bagi seseorang untuk menjadi wakil rakyat. Sepertinya kebanyakan mereka bermodalkan keberanian dan idealisme, tanpa punya intelektualitas yang memadai. Seperti kasus seorang guru tari yang mencalonkan diri jadi caleg. Terasa tidak nyambung dan sedikit meragukan. Guru tari itu tak punya pengalaman praktis dalam berpolitik dan dipertanyakan juga eksistensinya. Hal ini akan berbeda jika misalnya seorang TKW yang sudah malang melintang di organisasi yang membela hak-hak TKW mencalonkan diri menjadi caleg. Ia jelas punya pengalaman praktis dan orientasi kuat kemana kegiatan politiknya ajan diarahkan. Sekali lagi beliau menekankan bahwa meski politik adalah hak semua rakyat tapi konstituen-konstituen yang berkecimpung di dalamnya juga harus punya kwalitas, jadi tak hanya butuh idealisme semata.

Lebih jauh Bu Eva mencoba menerangkan kepada kami bahwa pemicu munculnya politisi busuk yang bermain money politik adalah sifat demokrasi kita yang masih materialistik. Orientasi masyarakat kita masih belumbisa beranjak dari uang. Sangat disayangkan. Saya jadi berpikir, betapa ironis dan tragisnya masyarakat kita. Semua permasalahan ini sangatlah kompleks dan terlalu elit untuk ukuran otak orang Indonesia yang masih sederhana. Tapi ada sedikit optimisme yang di lontarkan oleh Bu Eva. Optimisme itu adalah setiap pelajar dan mahasiswa yang tanggal 9 April nanti akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Merekalah sosok-sosok yang kritis dan tak bisa dibeli dengan janji dan uang. Pemuda Indonesia. Saya jadi bangga mendengarkan kata-kata Bu Eva yang satu ini. Saya juga termasuk Pemuda Indonesia.

Selesai dengan seminar itu suasana yang tadinya serius jadi agak cair gara-gara candaan cerdas moderator. Kami istirahat untuk makan dan sholat. Saya kembali terkejut tapi juga senang tak alang kepalang. Sebabnya karena kami (ini penilaian objektif saya yang agak ndeso) dijamu dengan masakan standar hotel. Sungguh senang saya. Kapan lagi makan enak, pikir saya. Dan tanpa pikir panjang dan agak tak tahu diri saya bergaya bak bos dengan mengajak teman kenalan saya untuk memesan makanan apa saja. “Aku traktir kalian semua,” kata saya tak tahu diri. Dan saya mengambil makan yang enak-enak itu. Benar-benar enak. Alhamdulillah.

Usai sholat acara berlanjut. Kini kami dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok diskusi yang akan diberi semacam soal kasus oleh panitia dan mereka harus menemukan pemecahannya lalu mempresentasikan kepada peserta lainnya. Ada tiga tema yang harus mereka pecahkan yaitu : pengawalan kebijakan DPR, Menangulangi money polotik, dan menggulangi golput. Kelompok kedua adalah kelompok simulasi politik. Mereka akan langsung perform sebagai anggota dewan, pemerintah, dan rakyat. Nantinya mereka akan melakukan semacam debat dengan tema wacana kelangkaan BBM dan konversi BBM menjadi LPG yang masih kurang merata dan tak menyentuh rakyat kecil. Dan kelompok ketiga adalah kelompok menyanyi. Agak tak nyambung memang. Kami diharuskan menciptakan lagu yang sifatnya merakyat dan penuh semangat untuk menjadi media pembelajaran politik bagi masyarakat. Saya masuk di kelompok ketiga.

Bergabung dengan kelompok ini sangat menyenangkan. Pak Yayak, seorang instruktur lulusan ITB jurusan senirupa dan desain, oranganya sangat humanis. Beliau sudah tua tapi semangatnya tak kalah dengan yang masih muda. Beliau membimbing kami dengan sangat menyenangkan. Tak ada kesan menggurui. Saya dapat ilmu menarik dari beliau. Lagu adalah penyimpan semangat yang paling ampuh. Analoginya, pada setiap peperangan, pasti barisan paling depan adalah barisan prajurit pemusik. Selama peperangan berlangsung mereka akan terus mengumandangkan lagu-lagu sebagai penyemangat kawan-kawannya bertempur. Di Indonesia sendiri, pada masa orba, puluhan bahkan ribuan mahasiswa di Medan yang berdemonstrasi dengan penuh semangat menyanyikan lagu penyemangat perjuangan. Sampai mereka diserang oleh TNI mereka tetap semangat dan tak mengendurkan perjuangannya. Seperti kata Chairil Anwar : “sekali berarti, sudah itu mati”. Kami pun berhasil menciptakan sebuah lagu. Saat itu sekali lagi saya bangga. Saya ikut andil dalam merumuskan lirik lagu tersebut.

Selanutnya adalah presentasi dan perform dari kami. Kelompok pertama dengan sukses dan cerdik berhasil memecahkan permasalahan yang disodorkan panitia, kelompok dua menampilkan debat yang lumayan seru, dan kelompok ketiga menyanyi dengan penuh semangat tapi agak sumbang dan kurang kompak. Tak apalah, pikir kami, yang penting semangat. Setelah itu acara follow up, dan saya semakin bangga. Dalam satu kesempatan saya memberanikan diri berbicara di depan. Sungguh menyenangkan dan saya selangkah lebih maju.

Acara selesai dengan baik dan saya membawa semangat Pemuda Indonesia yang saya peroleh itu pulang. Dan inilah oleh-oleh dari acara ini :

SAMA-SAMA

Belajar sama-sama
Bertanya sama-sama
Kerja sama-sama
Reff : semua orang itu guru
Alam raya sekolahku
Sejahteralah bangsaku


RAKYAT INDONESIA

Aku rakyat Indonesia
Aku punya cita-cita
Punya mobil punya sawah
Jadi mentri atau bupati
Aku cinta indonesia
Aku cinta pancasila
Apa daya uang tak pounya
Sekolahpun aku tak bisa
Reff : indonesia kaya raya
Mengapa aku menerita
Tapi aku tetap gembira
Karena bisa teriak Merdeka!
Aku anak siapa saja
Ayah kerja ibuku juga
Pagi sampai sore hari
Upahnya habis sudah
Aku makan propaganda
Dengan lauk janji-janji
Terka kau ini siapa
Aku rakyat Indonesia


RAKYAT BERSATU

Satukan dirimu semua
Seluruh rakyat senasib serasa
Susah senang di rasa sama
Bangun, bangun segera
Satukanlah berai jemarimu
Kepalkanlah dan jadikan tinju
Bara lapar jadikan palu
Tuk pukul lawan tak perlu meragu
Reff : pasti menang harus menang rakyat berjuang
Pasti menang harus menang rakyat merdeka
*hari terus berganti, tak harus kalah lagi
Si penindas harus pergi, untuk hari esok yang lebih baik
pasti menang harus menang rakyat berjuang
Pasti menang harus menang rakyat merdeka
*jangan mau ditindas, jangan mau dijajah
Jiwa dan pikiran kita, untuk hari esok yang lebih baik.

Dan inilah lagu ciptaan kami :
SANG KAWULA MUDA

Sang kawula muda ayo berjuang
Kibarkan panji, panji keadilan
Sang kawula muda ayo berjuang
Kibarkan panji, panji perdamaian
Sang kawula muda ayo berjuang
Tak pernah gentar, slalu tetap tegar

Reff : lawan penindasan lahir perdamaian
Hilangkan tirani wujudkan keadilan .


Mandalawangi, 15 Maret 2009
Read More......

Rabu, 11 Maret 2009

NGOMONG-NGOMONG TENTANG HIDUP


Hidup adalah pilihan-pilihan dan perjuangan. Kadang hidup itu juga bisa merupakan sebuah perjudian. Terkadang sekeras apapun kita berusaha, pada akhirnya kalau Allah punya kehendak lain, ya apa mau dikata. Menggerutu pun percuma. Itulah perjudian yang sudah berlangsung sejak Nabi Adam tercipta.

Akhirnya manusia akan dibuat bingung, apa perlunya kita hidup? Pertanyaan ini sama sulitnya dengan menggambarkan bagaimana bentuk Allah. Terlalu abstrak. Ya, hidup itu abstrak. Bagaimana mungkin kita menggambarkan wujud Allah, padahal Allah bukanlah dzat fisik. Kalau Allah itu fisik maka ia makhluk. Kalau begitu Allah itu ghoib? Saya rasa tidak, karena malaikat dan Jin juga ghoib meski mereka punya fisik dalam keghoibannya. Allah adalah dzat yang bukan fisik ataupun ghoib. Allah tak bisa dipahami dengan konsepsi fisik dan ghoib. Allah adalah realitas mutlak. Seperti itulah kehidupan. Hanya saja kehidupan adalah keghoiban yang melingkupi kita. Wujud fisiknya adalah apa yang sekarang ini kita lakukan. Hanya saja kehidupan itu terlalu abstrak. Kehidupan adalah semesta kemungkinan, berantakan dan penuh misteri. Tapi pada hakikatnya kehidupan adalah sebuah jalinan keteraturan penciptaan yang berujung apa satu Causa Prima, Ilahi, Sang Maha Pencipta. Sebuah fakta mutlak yang tak bisa dibantah.


Lalu, apa gunanya kita bekerja, belajar, dan berusaha kalau akhirnya hasilnya adalah kepastian Tuhan? Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Bukankah Nabi Muhammad bersabda agar kita berusaha keras untuk dunia seakan kita hidup selamanya, dan berusaha untuk akhirat seakan kita mati besok. Jadi jelas hidup itu punya tujuan. Untuk itulah akhirnya kita mati. Kembali pada Causa Prima, Allah. Seperti apa yang disyairkan Abu Nawas :
“Wahai Tuhan, aku bukanlah ahli surga tapi aku tak akan sanggup di neraka.”
Lalu apa yang sebenarnya kita inginkan dala hidup? Ridho. Itulah yang kita cari, kita tuju. Dengan begitu masuk neraka pun akan enak karena memang Alloh telah meridhoi kita, masuk surga pun akan lebih nikmat karena ridho dari Alloh.

Jadi, kalau begitu kita tak usah berusaha saja, toh hasilnya yang menentukan bukan kita. Tentu tidak bisa begitu. Allah memang Maha Menentukan, dialah pusat semua hal. Tapi siapakah yang menjalani hidup ini? Apa Allah yang menjalaninya? Tidak, kitalah yang menjalani hidup. Allah tak butuh apa-apa, tapi kita butuh apa-apa. Seperti apakah “apa-apa” yang kita butuhkan, yang kita cari. Itulah ridho Alloh seperti apa yang disyairkan Abu Nawas. Kalau kita mau berusaha, paling tidak jalan menuju ridho itu akan sedikit dimudahkan. Hal ini tak terbatas pada surga dan neraka, karena sekali lagi tujuan kita adalah Alloh. Surga dan neraka adalah wujud ridho Alloh itu sendiri atas apa yang kita usahakan.

Mungkin ada satu ungkapan yang setidaknya bisa menjelaskan mengapa kita berusaha dalam hidup ini. Ungkapan itu dikemukakan oleh Leo Tolstoy : “Tuhan tahu, tapi Dia menunggu.” Percaya atau tidak, terserah anda. Toh ini cuma omong kosong saya.

Mandalawangi, 10 Maret 2009

Read More......

Kamis, 05 Maret 2009

Koordinasi Itu Penting

Ikut organisasi adalah hal baru bagi saya. Karena selama sekolah di MTs saya tidak pernah ikut organisasi apapun. Dan saat ini, saya adalah ketua umum Pers Jurnalistik. Sesuatu yang cukup mebingungkan dan excited. Belum ada dua tahun pengalaman saya dalam berorganisasi sudah harus menerima amanah yang cukup berat. Tapi saya bersyukur, dari sini saya bisa belajar dan menambah pengalaman. Dan lagi masih ada orang-orang hebat yang mendukung saya di belakang.
* * *
Biasanya, Raker (rapat kerja) sebuah organisasi dilaksanakan di awal masa kepengurusan. Tapi tidak dengan raker OSIS yang saya ikuti. Raker yang semestinya dilaksanakan setidaknya pada bulan Oktober, justeru dilaksanakan pada bulan Februari. Itu artinya sudah melebihi setengah masa kepengurusan. Saya sebagai anggota tidak mau mempermasalahkan hal ini lebih jauh karena hal itu bukan inti dari tulisan saya ini. Dalam catatan ini saya ingin membahas tentang pengalaman keorganisasian.

Berhubungan dengan raker OSIS, meskipun belum berpengalaman saya punya catatan yang cukup menarik setidaknya untuk saya sendiri. Sebelumnya seorang senior (saya banyak belajar dari dia) saya pernah menginformasikan kepada saya apa sebenarnya raker OSIS itu. Bayangan pertama saya adalah rapat yang menjenuhkan (ternyata benar dugaan saya) dan disertai debat-debat yang menegangkan. Dan setelah saya ikut raker tersebut, saya membuktikan bahwa raker itu memang menjenuhkan tapi tidak menegangkan sama sekali seperti yang diinformasikan senior saya. Tapi di raker ini saya cukup banyak belajar berorganisasi.
Kalau sesuai dengan prosedur, proker (program kerja) dibuat oleh pembina dengan masukan dari pengurus organisasi. Tapi di Matrix campus prosedur ini jauh melenceng. Proker bisa dikatakan 100% dibuat oleh pengurus organisasi dan posisi pembina hanya sebagai pemberi masukan dan mengesahkan proker yang sudah dibuat dan diajukan. Dari Waka Kesiswaan, Pak Agus, memberi sedikit komentar terhadap cara kerja organisasi yang belum sesuai dengan aturan yang berlaku. Saya sebagai pemula agak sulit menerima tapi saya rasa inti dari komentar dan arahan beliau adalah bagaimana organisasi-organisasi di sekolah bisa berjalan dengan tertib dan seirama. Dari sini saya meresa bahwa berorganisasi ternyata cukup bertele-tele dan melelahkan.
Lebih jauh Pak Agus menekankan pentingnya koordinasi yang baik antara organisasi dan sekolah. Hal ini terutama menyangkut pendanaan dan kelancaran kegiatan. Saya yakini nasehat ini benar dan saya sudah punya buktinya. Bukti yang paling tampak adalah majalah sekolah yang dikelola organisasi saya dan yang paling anyar adalah acara penempuhan slayer PMR yang gagal terselenggara.Sungguh sangat disayangkan acara sepenting itu sampai gagal. Sekali lagi berorganisasi itu sangat melelahkan.
Tentang jalannya acara raker, saya rasa raker ini belum bisa dikatakan mencapai tujuannya. Sepanjang pengamatan saya, raker OSIS tahun ini terkesan hanya sebagai wadah sosialisasi proker organisasi-organisasi yang bernaung di bawah OSIS. Kehadiran pembina pun tampak hanya sebagai pemantau. Beliau-beliau pun telah menegaskan bahwa mereka menyerahkan sepenuhnya raker ini pada teman-teman organisator. Karena tampaknya para pembina belum bisa sepaham satu sama lainnya. Pak Fahris, pembina KIR, memberikan komentar bahwa seharusnya para pembina berkoordinasi dengan organisasi binaannya dan pembina-pembina organisasi lain agar tiap kegiatan yang diadakan nantinya benar-benar terukur dan terpantau.
Catatan akhir yang saya peroleh dari raker ini adalah pentingnya koordinasi dan adanya kesepahaman antarorganisasi dan sekolah sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung terhadap kegiatan siswa. Sangat bertete-tele dan melelahkan. Tapi di balik itu semua saya bisa belajar dan berbenah agar lebih baik. Hal penting lainnya adalah organisasi-organisasi itu adalah juga terikat pertemanan. Saya salut OSIS telah memberi media yang baik bagaimana mengusahakan agar pertemanan itu tetap terjaga tanpa terbentur oleh kepentingan-kepentingan sepihak. Saya jadi lebih semangat.

Mandalawangi, 28 Februari 2009

Read More......

Rabu, 04 Maret 2009

LEBIH KREATIF DENGAN TIK

Suasana kelas agak gaduh. Miss Zidni dan dua teman saya, Helmi dan Isti, sibuk menyiapkan materi pelajaran bahasa Inggris dengan media LCD. Kali ini bukan Miss Zidni yang akan menyampaikan materi pelajaran, tapi dua teman saya tadi yang akan menyampaikan materi, tentang Passive Voice waktu itu. Dengan gayanya yang khas, Helmi menyampaikan materi dengan bahasa Inggris yang medok dan apa adanya. Sementara teman saya itu menerangkan materi di papan tulis telah terpampang slide tentang materi yang diterangkan. Suasana jadi hidup dan lepas. Teman-teman yang lain dengan enjoy memerhatikan materi dan tak jarang tertawa melihat Helmi dengan gaya khasnya.

Tidak biasanya kelas menjadi hidup saat pelajaran bahasa Inggris. Dan sesuatu yang menggembirakan tentunya bisa menghidupkan perhatian teman-teman lewat kegiatan yang satu ini. English Project namanya, adalah tugas aplikatif khusus dari Miss Zidni. Teman-teman diwajibkan menyampaikan materi pelajaran dengan media Ms. Power Point. Dari yang saya amati kegiatan ini sangat efektif dan kreatif. Teman-teman tidak hanya jadi pendengar tapi juga terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.
Sekali lagi, kegiatan ini sangat kreatif dan aplikatif. Kreatif, yang mana teman-teman langsung mencari, memahami, membuat, dan mempersiapkan sendiri materi yang akan diajarkan. Aplikatif, karena teman-teman bisa langsung mengaplikasikan ilmu bahasa Inggris yang diperoleh selama ini dan juga ilmu TIK-nya. Ya, meskipun terkadang terdengar lucu, tapi ini adalah metode yang bagus agar bahasa Inggris tak hanya sekedar jadi bahasa tulis tapi juga bisa jadi kebiasaan lisan teman-teman siswa.
Yang jadi catatan saya, selain dari sisi bahasa Inggris, tapi juga dari sisi TIK-nya. TIK memang seharusnya bisa jadi sarana pengembangan diri siswa. Selama 10 tahun saya sekolah, perkembangan teknologi terjadi sangat cepat. sangat beruntung sekolah mampu mengakomodir kebutuhan anak bangsa akan teknologi lewatpelajaran TIK. Dan yang lebih hebat lagi TIK bisa berkolaborasi dengan pelajaran lain. Dan Miss Zidni telah mengambil inisiatif yang sangat bagus dengan adanya English Project ini. Suatu hal yang patut diaplikasikan tidak hanya untuk media belajar bahasa Inggris saja, juga mestinya semua pelajaran bisa memanfaatkannya.
Yang paling baru di Matrix campus adalah adanya mulok komputer akuntansi. Sejak pertama saya sudah tertarik dengan pelajaran ini. Selain sesuai kebutuhan dan menunjang, adanya komputer akuntansi (kompak) memberi warna baru bagi akuntansi yang bagi sebagian teman-teman siswa agak jlimet. Saya dan teman-teman jadi terbantu dalam memahami akuntansi dengan adanya pelajaran kompak ini. Itu baru satu dua pelajaran yang tersentuh aplikasi TIK, apalagi kalau semua pelajaran berkolaborasi dengan TIK? Bukan tidak mungkin tiga sampai empat tahun sekolah tercinta kita ini bisa jadi Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Ha…ha…ha… mimpi kali ye . Tapi sepertinya bukan mimpi deh, kalau kita semua punya niat dan kemauan.
Salut buat Miss Zidni atas inspirasinya, dan untuk guru-guru yang lain bolehlah ide kreatif Miss Zidni ini dicontoh. Jadi, kita nggak Cuma diam dan mencatat semua yang disabdakan bapak dan ibu guru. Dan teman-teman tambah semangat belajarnya!!

Mandalawangi, 24 Februari 2009

Read More......

Senin, 02 Maret 2009

CATATAN PENEMPUHAN KTA PERS JURNALISTIK 2009 LEBIH KREATIF, KURANG EKSPLORASI MENTAL


Setelah melalui perjuangan yang alot, Penempuhan KTA (Kartu Tanda Anggota) Pers Jurnalistik berhasil digelar. Kali ini sedikit berbeda karena diadakan hanya sehari, tidak seperti tahun lalu yang diadakan selama dua hari. Karena hanya sehari (tanggal 22 februari) saja maka kegiatan jelajah malam yang notabene sebagai tes mental tak dapat dilaksanakan. Padahal acara inilah sebenarnya inti dari penempuhan ini. Harapan saya, selain teruji kemampuannya peserta juga memiliki mental yang kuat. Tak apalah, setidaknya ada hal-hal lain yang membuat saya sebagai ketua Pers jadi sedikit lega.

Penempuhan KTA, sejak awal dilaksanakan adalah dalam rangka menguji anggota kelas X untuk mencapai kompetensi tertentu tentang kejurnalistikan dan uji mental pertama. Nantinya peserta yang lulus uji akan mendapat kartu pers sebagai tanda bahwa ia adalah seorang jurnalis. Tema yang diusung untuk tahun ini adalah better generation (generasi yang lebih baik). Jadi, idealnya mereka disiapkan untuk menjadi jurnalis-jurnalis muda yang lebih kreatif, kritis, dan siap secara mental. Nah, inilah yang menjadi titik berangkat Penempuhan KTA 2009. Dengan memercayai bahwa para jurnalis muda ini dapat menjadi pembantah anggapan beberapa orang yang menganggap bahwa profesi jurnalis adalah kotor dan tidak punya aturan.

Sejak seminggu sebelum penempuhan, panitia telah memberikan tugas khusus bagi peserta. Tugasnya cukup simpel mencari informasi all about features, mencari contohnya di koran, dan membuat sendiri feateres secara berkelompok. Tiap kelompok kami buat komposisinya dari kelas yang berbeda-beda. Tugas meang simpel, tapi kami coba bagaimana mereka mengordinasikan anggotanya yang berbeda kelas dan bahkan ada yang belum kenal. Tujuannya satu, keakraban. Dengan deadline yang hanya beberapa hari kami harap mereka dapat belajar secara tidak langsung untuk mengordinasikan anggotanya.

Saat hari H, saya datang terlambat. Tapi syukurlah tak ada hal penting yang terlewat. Dari dua materi yang panitia berikan, featurs dan majalah mini, saya rasa mereka antusias. Suasana cukup hidup dan respect peserta terhadap pemateri cukup baik. Satu yang saya sayangkan adalah waktu yang pendek. Tak sempat diadakan tanya jawab langsung kepada pemateri. Alhasil, pertanyaan peserta ditulis di selembar kertas dan akan dijawab oleh pemateri, Pak Tauhid Wijaya, lewat bolg beliau. Antusiasme yang kurang mendapat perhatian. Saya rasa peserta agak kecewa dengan hal ini.

Jam 10.30 acara berlanjut dengan praktek pembuatan majalah mini. Secara teknis tak banyak kendala dari para peserta. Intinya adalah bagaimana peserta membuat beberapa lembar kertas kosong yang diberikan panitia menjadi sebuah majalah kreatif yang unik. Dari hasil yang dikumpulkan, saya salut. Daripada tahun lalu dengan alokasi waktu dua jam, dan tahun ini hanya satu setengah jam, saya katakan kreatifitas mereka tergolong tinggi. Sungguh, saya melihat karya mereka cukup atrkatif dan fresh. Tinggal dikembangkan saja. Namun itu saja belum selesai. Peserta masih harus memresentasikan karya majalah mini tersebut dan juga makalah features yang mereka buat sebelumnya.

Dari pengamatan saya, tampaknya peserta masih belum siap untuk bicara di depan umum, terkecuali beberapa. Kesan gagap dan bingung masih terasa. Saya yakin mereka menguasai materi presentasi, hanya saja begitu mereka berdiri di hadapan umum semuanya kabur. Cukup disayangkan sebenarnya, tapi setidaknya peserta telah mencoba untuk bicara. Dan penyampaian mereka dapat saya nilai cukup kreatif , tinggal mengasah bagaimana mereka harus bicara di depan umum. Itu poinnya. Selanjutnya peserta menghadapi tes pemahaman kode etik pers. Sebenarnya inti tes ini bukan sekedar paham dan hafal tapi juga penguji atau kakak pendamping harus bisa memotivasi adik-adiknya. Sekali lagi saya agak kecewa. Lagi-lagi terbatas dengan waktu. Saya saja merasa belum tuntas tapi waktu sudah habis.
Selanjutnya adalah penutupan dan pengukuhan. Cukup respectable, hanya saja saat pengukuhan saya merasa agak kurang baik dan maksimal. Secara keseluruhan saya jamin mereka punya kreatifitas dan siap dikembangkan. Hanya saja satu catatan saya, eksplorasi mental mereka masih terbilang kurang. Mereka belum tergembleng dengan maksimal. Inilah tugas rumah yang cukup berat buat jajaran pengurus kelas XI. Agak disayangkan juga salah satu faktornya adalah waktu yang terbatas. Ini harus segera dipikirkan.

Akhirnya, saya sampaikan selamat dan salut atas usaha adik-adik kelas X. memang sebagian dari anda belum memperoleh KTA, tapi saya yakin itu hanya masalah waktu sampai kami dari pengurus kelas XI merasa yakin anda pantas mendapatkan KTA. Selamat berkreatifitas dan tunjukkan eksistensi anda. Ingat, Jurnalis tak akan pernah hidup tanpa anda-anda semua!!

Mandalawangi, 26 Februari 2009


Read More......

Pertama Kali

Saya baru saja dari kantin ketika bel akhir KBM berdering. Saya langsung kembali ke kelas sebantar untuk mengambil tas dan segera ke ruang komputer. Saya akan membuat blog hari ini. Sebenarnya sudah sedari dahulu kala saya ingin membuat blog, hanya saja kesibukan selama ini kurang mendukung. Akhirnya saya di panggil untuk ikut lomba desain blog. It's a great moment. Saya benar-benar menulis saat ini.

Satu tujuan saya, menulis dengan jujur. Seperti Gie dan Chairil. Saya sudah baca puisi-puisi Chairil dan catatan-catatan Gie. Say temukan sesuatu yang benar-benarngin saya lakukan. Selama ini saya sudah agak kenyang membaca. Sekarang saatnya endapan yang selama ini menumpuk harus disalurkan. Ya, menulis!

Memang saat ini prioritas awal adalah ikut lomba. But, everything will change. Saat ini lomba, besok saya ingin menulis untuk jujur. jujur untuk semua yang saya tuliskan. motivasi saya adalah menulis dengan sejujur-jujurnya seperti Gie dan membuat tulisan yang punya makna seperti puisi Chairil.

Nantinya Blog saya ini akan saya isi dengan catatan-catatan tentang peristiwa yang saya alami dan saya renungkan. juga akan saya isi dengan artikel jurnalistik, sejarah, budaya, dan sosial-politik. tulisan-tulisan yang berat, tapi karena saya suka persoalan-persoalan itu akan saya coba menuliskannya.

akhirnya, selamat datang di blog saya dan semoga memperoleh manfaat.

Read More......
.:: TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA * SEMOGA BERMANFAAT UNTUK ANDA SEMUA * WASSALAMU'ALAIKUM ::.