.:: ASSALAMU'ALAIKUM PEMBACA YANG BUDIMAN * SELAMAT MEMBACA CATATAN-CATATAN SEDERHANA INI ::.
Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2011

DOKTER INDRO, SANWANI, MAS SLAMET, DAN MASALAH PEMBANGUNAN

Dokter Indro :
Kenapa orang sini pada borokan mulu nih ye? Nggak ada yang sakit jantung kayak di kota.
Mas Slamet :
Soalnya penyakit jantung nggak masuk program pemerataan itu.
Dokter Indro :
Loh kok gitu?
Mas Slamet :
Ya nggak tau', yang di gedongan sakitnya begitu,  yang bawah  borokan.
Dokter Indro :
Hmm, jadi penyakit jantung, penyakit liver kagak pernah mampir sini.
Sanwani :
Bukan ape-ape, penyakit jantung kagak mampir sini, penyakit jantung buat orang banyak pikiran. orang kecil pan nggak pernah mikir, laper mulu.
Dokter Indro :
Belon tentu lagi...
Mas Slamet :
Iye banyak lapernya daripada mikirnya.
Dokter Indro :
Belon tentu...
Mas Slamet :
Loh kok gitu?
Dokter Indro :
Iye... belon tentu makan sehari.
***

Dokter Indro :
Nah ini lagi, ini banyak ni di sini ni. tiap dateng "Dok, saya penyakit borok", dateng lagi "Dok saya sakit koreng". Aduh ileh...Ini borokan semua yak! livernya kapan??!
Sanwani :
Iye, Dok, maklum di kampung sini mandi cuci kakusnya nggak beres, Dok.
Dokter Indro :
MCK kurang bagus, ya lapor! Ke RT, RT ke RW, RW ke lurah, lurah ke camat, camat ke walikota, walikota ke gubernur.
Sanwani :
Eee! Udah saya laporin taun '72 ampe' sekarang belon diapa-apain!
Dokter Indro :
Berarti berkasnya nyangkut.
Sanwani :
Nyangkut di mane?
Read More......

Senin, 29 Maret 2010

UN dan Kejahatan Nasional

Hari Ahad 28 Maret 2010 lalu, saya agak mangkel karena tidak jadi ke Madiun. Rencana saya ke Madiun sebenarnya hanyalah sekadar mencari pasar loak yang menjual buku-buku lawas dengan harga murah. Akhirnya untuk mengusir jenuh saya menyuruh adik saya untuk membeli koran. Lagipula saya sudah lama tak baca koran atau nonton TV, jadi agak blank rasanya. Otak saya ini perlu di brainstorming lagi. Tapi saya agak kecewa karena salah satu headline koran yang membahas kasus korupsi Gayus Tambunan. Duh, siapa lagi ini? Korupsi kok ndak waleh-waleh. Mbok ya cari topik lain yang lebih fresh. Aduh kok jadi ngelantur ya, padahal saya mau ngajak pembaca sekalian ngobrol soal UN. Sebenarnya ini juga topik basi, tapi berhubung saya baru saja menjalaninya, tak apalah sedikit berkomentar.

Sebenarnya tulisan saya ini lebih tepat dikatakan sebagai sebuah tanggapan. Lewat tulisan ini saya mau menanggapi quote-nya Pak Imam B. Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia. Judul tulisan ini pun saya buat agak mirip-mirip sedikit. Bukannya mau plagiat, soalnya setelah saya uteg-uteg, ya cuma judul di atas itu yang pas.
. To the point, Pak Imam khawatir pelaksanaan UN lebih banyak menimbulkan efek negatif daripada manfaat. Khususnya terkait pembentukan kualitas mental peserta didik. Sedikit saya tambahkan, hal ini jika pemerintah terus mempertahankan sistem yang sekarang ini.

Mengapa? Aduh, kalau ditanya seperti itu jawabannya bisa panjang, ndak cukup saya tulis selembar dua lembar. Tapi akan saya kemukakan salah satu sebabnya, dari sudut pandang saya sebgai seorang pelajar. Kita semua tentu tahu sistem kurikulum yang diterapkan di sekolah saat ini, KTSP. Dan seperti KBK, sistem KTSP (katanya) tetap mengedepankan aspek kompetensi peserta didik. di sini tentu saja proses belajar adalah patokannya, bukan hasil akhir. Itu juga berarti bukan hanya aspek kognitif saja yang jadi pertimbangan. Percuma dong di rapor ada kolom nilai psikomotor dan afektif kalau ternyata tidak ada gunanya. Buang-buang tinta pula. Lalu apa pula gunanya para guru mengadakan ujian sekolah dan ujian praktek kalau hanya dijadikan sebagai “dekorasi” ijazah. Dan secara pragmatis UN hanya menekankan pada aspek kognitif saja. Ini ndak kongkret namanya!

Pak Imam mengatakan begini, “Ini sistem yang bisa menciptakan mentalitas by pas, jalan pintas, short cut”. Saya yakin pembaca sekalian yang saat ini masih berstatus pelajar SMP/MTs, SMA/MA, dan pembaca-pembaca sekalian yang pernah merasakan yang namanya UN mengetahui realitas sebenarnya di institusi sekolah. Tentunya anda sekalian tahu seperti apa beban seorang pelajar yang akan menempuh UN. Sejak semester awal masuk jenjang kelas terakhir, barangkali sebagian pembaca telah disuguhi jadwal bimbingan belajar (bimbel). Sekolah sejak pukul 07.00 dan baru pulang pukul 15.30 atau bahkan lebih malam lagi. Tiap hari tak bosan-bosannya menelaah materi-materi pelajaran yang di-UN-kan. Ironisnya (dan ini sudah jadi rahasia umum), ketika UN tiba secara naluriah sebagian siswa akan menghalalkan segala cara untuk “sekadar” mengisi LJUN. Kita jadi tidak sungkan lagi mencontek atau bahkan mencari bocoran jawaban untuk mengejar kelulusan. Ada pula kasus pembocoran jawaban yang oknum-oknumnya justeru para guru sendiri. Lalu apa perlunya belajar selama ini? Tidak perlu malu-malu, saya pun mengalaminya. Namun kita semua tidak bisa serta merta menghakimi para pelajar atau guru yang melakukan itu semua. Kita sebagai pelajar dan para guru adalah korban sistem yang pragmatis! Sejak awal kita telah dijerumuskan secara sistemik.

Sebenarnya ada dampak laten UN lain yang selalu menimpa para guru di sekolah. Biasanya bila telah mendekati beberapa minggu menjelang UN, pihak sekolah akan mengeluarkan kebijakan untuk lebih mengintensifkan mapel-mapel UN. Di sadari atau tidak hal ini telah menumbulkan kesenjangan antara guru mapel UN dan guru mapel non-UN. kita cenderung lebih memfokuskan diri mempelajari materi UN. Lalu, sekali lagi, sadar atau tidak kita jadi menomor duakan pelajaran non-UN. Itu realitasnya.

Mau yang lain? Nah, yang ini malah lebih gawat lagi, sinisme antar sekolah. Ini karena sistem randomisasi pengawas. Ketika salah seorang pengawas dari sekolah A, misalnya, dinilai terlalu ketat dalam mengawasi sekolah B, akibatnya bisa turun-temurun. Teman-teman pelajar sekolah B akan komplain kepada panitia ujian dan jika tidak disikapi secara baik, bisa runyam urusannya. Pengawas-pengawas dari sekolah A untuk tahundepan pasti akan dilabeli “kejam”. Lebih luas lagi, sekolah A bisa saja terkucilkan. Atau mungkin guru-guru sekolah B ketika mengawasi sekolah A akan “membalas” perlakuan pengawas sekolah A pada siswa-siswanya. Kompleks sekali, bukan?

Semua yang saya kemukakan bukan hanya sekadar gosip. Semua ini telah terjadi secara periodik, cakupannya bukan hanya di sekolah-sekolah tertentu saja, bisa saja seluruh Indonesia! Kita ndak bisa merem terus dan bersikap “mboh karepmu”. Ini kejahatan nasional namanya! Mau jadi apa generasi kita kalau seperti ini. “Siapkah kita dipimpin oleh generasi yang untuk lulus sekolah saja harus tidak jujur?”, tulis seorang guru MTs saya di sebuah artikel. Sekali lagi ndak usah isin-isinan, saya sendiri pun mengalami dan merasakannya juga.

Katanya para sesepuh penulis, ndak ilok ngelek-ngelek terus tanpa ngasih solusi. Nah biar ndak disangka sok tahu, saya juga akan sedikit ngomong soal solusi. Yang pertama, hapuskan UN atau jika tidak mau dihapus, evaluasi sistem UN secara besar-besaran. Sudah waktunya sistem pelaksanaan UN dirombak total. Dan solusi kedua, penentu lulus tidaknya seorang siswa jangan hanya dari UN saja. Bisa juga penentuan lulus itu jadi hak prerogatif sekolah. Selama ini yang tahu progres-nya peserta didik adalah sekolah (terutama sekali para guru) bukan UN. Tapi bukannya sekolah punya hak istimewa, tetap harus ada standar dari pusat. Jadi, Depdiknas yang buat standarisasinya, sosialisasi ke sekolah-sekolah, dan sekolah melaksanakan standar itu dengan pengawasan Dinas Pendidikan setempat. Saya rasa itu bukanlah hal yang terlalu idealis atau mustahil. Masalahnya, mau ndak kita berbuat?
Wassalamu’alaikum.

Mandalawangi, 29 Maret 2010
Read More......

Minggu, 29 November 2009

TRANSFORMASI PERBUKUAN

Beberapa tahun yang lalu Amazon.com memublikasikan sebuah alat bernama Kindle. Ini adalah alat untuk menyimpan dan membaca buku dalam format softcopy yang praktis. Mudahnya kita sebut alat ini buku elektronik saja. Kindle bisa menyimpan puluhan file e-book dan sewaktu-waktu kita ingin membaca salah satunya, kita tinggal menekan tombol dan alat ini akan menampilkan buku tersebut. Kita tak perlu repot lagi membolak-balik halaman buku atau kebingungan menenteng banyak buku. Alat yang praktis sekali.
Kehadiran Kindle jelas merupakan sebuah revolusi penting dalam dunia literasi. Entah mengapa gaung tentang alat ini tidak sampai di Indonesia. Padahal untuk anak sekolah saya rasa alat ini sangatlah membantu. Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih jauh lagi soal operational analysis alat yang namanya Kindle. Saya mau membicarakan suatu hal yang mungkin belum pernah terpikir sebelumnya. Saya sebut sebagai “Transformasi Perbukuan”. Istilah yang keren, bukan?

Pembaca yang budiman tentu pernah mendengar cerita tentang para Sahabat Rosulullah saw yang menuliskan al Quran pada batu, tulang unta, dan di pelepah kurma. Jauh sebelum itu, masyarakat Mesir telah mengenal papirus. Sebut saja itu sebagai Buku Purba. Lalu ketika metode pembuatan kertas sudah membudaya, masyarakat lampau menuliskan buah pikirannya dalm lembar-lembar sederhana. Lalu pada tahun 1440, Johannes Gutenberg menemukan metode pencetakan buku. Sebutlah itu sebagai Buku Zaman Pertengahan. Dan ketika metode pencetakan Gutenberg mengalami perkembangan sampai menjadi mesin cetak modern, kita mengenal buku berupa lembar-lembar kertas bertulisan yang dijilid rapi seperti sekarang ini. Kita sebut ini sebagai Buku Modern. Itulah yang saya sebut sebagai Transformasi, meski orientasinya terbatas pada perkembangan bentuk saja.
Lebih jauh lagi kita bicara, seperti apa transformasi perbukuan di masa mendatang? Tadi di awal tulisan saya memperkenalkan pembaca yang budiman dengan alat yang namanya Kindle. Seperti halnya teknologi, dunia literasi juga mengalami revolusi, dan Kindle (walaupun penggunaannya belum meluas) adalah suatu contoh revolusi di bidang perbukuan. Dari yang awalnya buku itu dari kertas, bertransformasi dalam bentuk alat elektronik bernama Kindle. Lalu kita juga mengenal istilah e-book atau buku elektronik. Buku telah bertransformasi menjadi sebuah barang digital. Apalagi baru-baru ini Google berencana menciptakan arsip digital raksasa. Caranya dengan memindai jutaan buku konvensional menjadi format softcopy yang nantinya lebih mudah diakses oleh masyarakat melalui internet. Proyek raksasa ini sementara masih dilaksanakan di AS dan sedang dalam tahap perundingan dengan para penulis buku dan penerbit AS. Jika terlaksana, kemungkinan besar proyek ini juga akan meluas ke Indonesia. Kita saat ini telah berada di ambang zaman yang saya sebut sebagai Buku Zaman Digital.
Pembaca yang budiman. Arah pembicaraan kita ini tidaklah muluk. Saya ingin mengajak anda memikirkan separti apa bentuk sebuah barang yang saat ini kita sebut “buku” di masa mendatang dan apakah transformasi ini mampu meruntuhkan asumsi rendahnya minat baca di Indonesia? Mungkin saja akan ada kacamata yang bisa menampilkan teks buku di lensanya. Atau mungkin akan ada buku hologram? Kita sama-sama tak tahu. Dan lebih urgen lagi, transformasi ini bisa menarik minat baca anak muda negeri ini. Kita sama-sama berharap dengan mudahnya akses buku ini bisa meningkatkan minat baca masyarakat terutama anak muda. Tentunya dengan peningkatan kualitas isi pula, tidak hanya berubah bentuknya saja. Kalau era buku digital nanti terwujud, harus ada sinergi yang baik antara penulis, penerbit, pemerintah, dan masyarakat tentunya. Karena setiap perubahan selalu menuntut kesiapan kita semua. Kita semua turut bertanggungjawab atas masa depan generasi yang lebih muda.
Di akhir tulisan ini kiranya ada satu lagi pertanyaan maha penting yang harus sama-sama kita pikirkan. Bisakah harga buku nantinya juga lebih murah?

Mandalawangi, 28 Agustus 2009
Read More......

Minggu, 26 Juli 2009

IDENTITAS KITA

Malam ahad kemarin saya senang sekali. Hampir 3 tahun ini saya tak pernah menonton pementasan wayang kulit. Dan kemarin dahaga saya akan tontonan yang satu ini terpuaskan. Saya begitu menikmatinya dan menonton sampai subuh. Lakonnya begitu memukau dan kritis, karawitannya mantap, dan begitu ramai. Tapi di balik itu semua saya punya dua catatan yang saya peroleh dari wayang kulit kali ini. Pertama tentang penontonnya dan yang kedua tentang lakon yang dibawakan dalang.
Sebenarnya apa pentingnya membicarakan penonton? Apa tak ada hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan? Justeru itulah sebabnya, karena tak pernah dibicarakan, saya ingin mengangkat suatu hal yang sepele ini. Baik, mari kita mulai saja. Wayang kulit adalah pertunjukan tradisional dan sudah sangat tua umurnya. Dulu ketika nenek moyang kita belum kenal TV, sinetron, atau reality show, wayang merupakan primadona dan selalu ditunggu-tunggu. Tapi coba lihatlah untuk saat ini. Pertunjukan wayang yang nyata-nyata lebih punya kualitas daripada sinetron cengeng semakin ditinggalkan.
Saat saya menonton ketika itu, saya tak menjumpai remaja seumuran saya. Rata-rata adalah orang seumuran ayah saya atau kakek-kakek. Itupun hanya ramai ketika bagian Cangik-Limbuk dan Goro-goro yang memang menghadirkan nyanyian dangdut dan sinden yang cantik-cantik. Setelah itu, ya biasa saja. Saya jadi heran dengan sikap kita yang begitu marah ketika kesenian Reog diklaim oleh Malaysia, padahal nyatanya kita tak pernah peduli dan merasa tergerak untuk melestarikannya. Saya malah berpikiran lebih baik jika Reog itu diklaim oleh Malaysia tapi tetap lestari daripada di negeri sendiri tak pernah dipedulikan lalu hilang begitu saja.

Kebetulan saat saya nonton kemarin, saya duduk di samping dua orang kakek yang sepertinya berteman. Entah mengapa saya begitu senang mendengarkan pembicaraan beliau berdua. Beliau berdua begitu asyik membicarakan tokoh wayang dan lakon yang sedang digelar. Kadang saya dengar beliau berdua tertawa dan saling diskusi menikmati lakon yang dibawakan dalang. Kalau saya bilang beliau-beliau ini layaknya nonton sinetron. Ayah saya juga begitu. Biasanya beliau juga bercerita sedikit tentang wayang kepada saya. Saya merasa negeri ini butuh lebih banyak orang-orang seperti ini daripada sarjana-sarjana lulusan sekolah elit di Amerika sana. Orang-orang yang begitu memahami dan begitu cinta pada budayanya sendiri. Bukan orang-orang yang katanya modern lantas melupakan asal-usulnya sendiri.
Catatan saya yang kedua berkenaan dengan lakon yang dibawakan sang dalang. Sang dalang malam itu membawakan lakon tentang riwayat hidup Wisanggeni. Sedikit mengulas siapa Wisanggeni, ia adalah anak dari Arjuna dari istrinya yang bernama Dewi Dersanala. Wisanggeni adalah keturunan Dewa Brama, penguasa api. Saat Wisanggeni lahir, Dewa Brama begitu marah karena ia ingin memperoleh cucu dari dewa bukan manusia seperti Arjuna. Sejak Awal Dewa Brama ingin menikahkan Dewi Dersanala dengan dewa bukan manusia seerti Arjuna. Karena dorongan Dewi Durga, Dewa Brama tega membuang bayi Wisanggeni ke kawah Candradimuka. Namun bukannya mati, bayi Wisanggeni diselamatkan dan di-“ruwat” oleh begawan Semar dan Prabu Bathara Kresna. Jadilah Wisanggeni pemuda yang dianugrahi keistimewaan layaknya dewa. Ia berkulit merah dan mempunyai semacam sorban yang bisa membuatnya terbang. Ia juga punya keistimewaan bisa mengetahui sesuatu yang akan terjadi lebih dahulu. Setelah itu ia bertekad untuk mencari jati dirinya. Oleh Begawan Semar, Wisanggeni dinasehati supaya bertanya kepada para dewa di Kahyangan perihal asal-usulnya. Jika dewa tidak mau memberi tahu rusaklah kahyangan mereka dengan kesaktian yang dimilikinya. Ia mematuhi nasehat Semar dan pergi ke Kahyangan. Dan ternyata semua dewa tak ada yang mau memberitahukan asal-usulnya termasuk juga raja para dewa, Bathara Guru. Sesuai perintah Begawan Semar Wisanggeni akhirnya mengobrak-abrik Kahyangan bahkan membuat Bathara Guru tak bisa berbuat apa-apa. Singkatnya Bathara Guru kewalahan dan pergi menemui Semar. Begawan Semar yang memang dalang dari semua kekacauaan ini memberikan wejangan kepada Bathara Guru. Semua kejadian ini adalah akibat dari kesewenang-wenangan dewa. Merasa berkuasa bukan lantas menjadikan dewa itu sombong dan mengatur manusia seenak hatinya sendiri. Dan sebagai dewanya dewa mestinya Bathara guru tak hanya diam saja seperti itu. Akhirnya Bathara guru meminta maaf dan menjelaskan siapa jati diri Wisanggeni yang sesungguhnya.
Cerita yang sederhana memang, tapi maknanya sangat dalam. Lakon tersebut saya kira sangat pas untuk iklim politik Indonesia saat ini. Di mana seluruh lapisan masyarakatnya sedang melaksanakan sebuah pesta demokrasi. Sebuah teguran dini bagi calon penguasa nantinya. Ibaratnya Bathara Guru itu adalah seorang presiden dan Wisanggeni adalah individu rakyat yang kritis dan proaktif. Ketika si penguasa dirasa sudah tak lagi merakyat, kita butuh pribadi-pribadi yang punya mental Wisanggeni. Pribadi-pribadi seperti inilah yang kita harapkan tumbuh pada pemuda-pemuda kita. Sungguh ini lakon yang sangat bagus. Salut untuk Ki Dalang. Saya jadi ingin nonton wayang lagi…

Mandalawangi, 9 Juli 2008
Read More......

Rabu, 06 Mei 2009

KOALISI, KEPENTINGAN, dan RAKYAT


Saat ini suasana ibukota sedang hangat-hangatnya. Dimana-mana saya kira muncul wacana tentang koalisi yang digagas sejumlah parpol guna memenangi pilpres 2009. Ada Partai Demokrat yang sudah cukup klop dengan PKS. Ada Golkar yang masih gamang menentukan posisi. Atau parpol-parpol kecil yang menyatukan suara untuk menunjukkan eksistensinya. Sangat runyamnya demokrasi itu. Lalu apa yang dapat kita sikapi dari fenomena ini?

Saya baru saja membaca harian KOMPAS edisi Senin 27 April 2009 ketika menulis artikel ini. Di headline halaman pertama KOMPAS mengangkat ulasan soal fenomena koalisi ini. Sekaligus pula membeberkan visi dan misi 9 parpol besar. Parpol-parpol itu adalah Partai Demokrat, PDI-P, Golkar, PKS, PKB, PAN, Gerindra, dan Hanura. Dan ada pula ulasan tentang wacana koalisi antar parpol yang bersifat pragmatis. Selesai membaca itu semua saya punya kesimpulan yang agak serius. Saya wujudkan kesimpulan ini dengan kalimat retoris : Apakah koalisi ini menyangkut nasib rakyat Indonesia atau hanya sekadar kepentingan parpol?

Sulit juga menemukan jawaban yang pas meskipun itu berupa jawaban yang masih mengambang. Jika melihat peta koalisi yang sudah banyak merebak di masyarakat, saya jadi agak sangsi. Mengutip dari ulasan KOMPAS itu, bahwa gagasan koalisi yang ada tidak dibangun atas persamaan nilai atau cita-cita perjuangan partai. Sepertinya bangun koalisi itu hanya untuk memenangkan pilpres 2009 mendatang. Lebih lanjut bangun koalisi yang seperti itu dikhawatirkan akan sulit membangun pemerintahan yang kuat dan efektif. Saya memang tidak tahu banyak tentang parpol-parpol yang berkoalisi itu, tapi jika melihat paparan visi dan misi parpol di harian KOMPAS tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa ulasan KOMPAS itu bisa berarti benar. Agak aneh juga melihat parpol yang punya citra Islam yang kuat berani berkoalisi dengan parpol yang lebih moderat. Atau Golkar yang terkesan masih hitung-hitung untung dan rugi dalam menentukan partner koalisinya. Juga gagasan koalisi yang tampak dari PDI-P, Hanura, dan Gerindra. Terlihat sangat klop dengan visi dan misinya, tapi jika melihat individu pemimpinnya saya merasa kok agak ganjil juga karena ketiga pemimpin parpol itu –setahu saya- punya latar belakang dan pandangan yang jelas beda. Runyam

Yang menghawatirkan, sampai saat ini kita masih mendengar hiruk-pikuk koalisi masih sebatas “dengan siapa parpol saya nanti berkoalisi?”. Saya belum mendengar parpol-parpol itu mengadakan pembicaraan intens tentang program-programnya untuk kemajuan Indonesia lima tahun mendatang. Padahal itulah pentingnya koalisi menurut saya. Saling berembuk dan bekerja sama dalam menentukan langkah-langkah praktis yang pas dalam menata Indonesia nantinya. Dan sepertinya akan membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk sekadar menunggu sebuah koalisi menyatakan program bersamanya untuk Indonesia. Hal ini melihat gejala yang tampak bahwa bangun koalisi yang ada nantinya dirasa kurang solid dan sebatas mengejar perolehan dalam pilpres 2009 nanti. Lalu akan kita ke manakan nasib rakyat Indonesia?

Yang jelas, rakyat kita mayoritas bukanlah orang-orang yang paham dan mau tahu tantang urusan yang muluk macam koalisi dan perkembangan politik. Rakyat kita masih sibuk untuk mengisi perutnya dan anak cucunya. Alih-alih memikirkan peta politik dan siapa presidennya nanti, yang ada rakyat masih bingung bagaimana memilih mereka dalam pemilu. Bagi saya pribadi, untuk para petinggi parpol di ibukota segeralah selesaikan masalah koalisi ini dan jangan lagi saling jaga gengsi atau rebutan kursi. Rakyat lebih butuh sembako murah daripada mendengarkan sampean-sampean ribut melulu tanpa tujuan yang jelas.

Mandalawangi, 28 April 2009
Read More......

Sabtu, 28 Maret 2009

BUBUKSAH GAGANG AKING, SEBUAH CERMIN DARI MASA LALU

Keikhlasan merupakan kunci ibadah. Tanpa keikhlasan percuma saja kita melakukan ibadah. Hanya akan tampak sebagai ritual ibadah saja. Tapi justeru yang sulit adalah menciptakan keikhlasan hati itu sendiri. Tapi apa salahnya bila kita terus berusaha. (sebenarnya saya agak malu menuliskan ini. Rasanya belum pantas. Tapi setidaknya tulisan ini bisa jadi pengingat kita semua)

Berhubungan dengan persoalan diatas, ada hal menarik yang ingin saya sampaikan. Sebagian pembaca yang di SD pernah belajar bahasa Jawa tentunya mengenal kisah Bubuksah Gagang Aking, bukan ? atau setidaknya anda mengetahui kisah ini dari orang-orang tua semisal kakek anda atau ibu anda. Bagi saya pribadi kisah ini cukup menarik. Karena ternyata sudah sejak ratusan tahun lalu nenek moyang kita telah menganggap penting keikhlasan dalam beribadah, terlepas terhadap kepercayaan yang mereka dulu anut (di sini saya mencoba mengaitkan dengan sisi agama Islam).

Secara singkat akan saya ceritakan mengenai kisah Bubuksah Gagang Aking. Dahulu ada dua bersaudara yang pergi ke hutan hendak bertapa demi kesempurnaan hidup. Mereka adalah Bubuksah dan saudaranya Gagang Aking. Dalam menjalani “laku”-nya mereka berbeda cara. Bubuksah bertapa dengan jalan memakan segala macam makanan sehingga badannya jadi gemuk, sedangkan Gagang Aking melakukan sebaliknya dengan menjauhi makanan sehingga tubuhnya jadi kurus.

Suatu saat Batara Guru berkenan menguji mereka berdua. Maka diutuslah dewa bernama Kalawijaya untuk melaksanakannya. Akhirnya Kalawijaya turun ke dunia sebagai harimau putih. Pertama kali ia mendekati Gagang Aking. Kepada Gagang Aking si harimau putih berkata bahwa ia lapar dan butuh daging manusia. Gagang Aking serta merta menolaknya. Karena percuma saja ia memakan Gagang Aking, si harimau putih pasti tak akan pernah kenyang. Kemudian si harimau putih mendatangi Bubuksah. Si harimau putih menyatakan permintaan yang sama kepada Bubuksah. Tanpa pikir panjang Bubuksah dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk menjadi santapan si harimau putih. Seketika itu Kalawijaya kembali ke wujud aslinya. Kalawijaya berkata bahwa yang lulus dalam pertapaannya adalah Bubuksah, bukan Gagang aking. Pada akhir hayat mereka keduanya sama-sama masuk surga karena tapa mereka. Tapi yang berbeda Bubuksah menerima kehormatan dewa dengan naik ke surga di atas punggung harimau putih sedangkan Gagang Aking bergelantungan di ekor harimau putih itu.

Pertanyaannya, mengapa bukan Gagang Aking yang jelas-jelas menjauhi nafsunya yang mendapat kehormatan duduk di atas punggung harimau tapi malah Bubuksah? Seperti diungkapkan di awal, kuncinya adalah keikhlasan. Gagang Aking memang melakukan “laku” yang terbilang istimewa, tapi tak ada keikhlasan untuk berbagi dan menolong makhluk lain yang membutuhkan. Sedangkan Bubuksah karna keikhlaasannya kepada dewa mau menyerahkan tubuhnya untuk menolong si harimau putih. Dalam Islam apa yang dilakukan Gagang Aking hanya sebatas bertuk ritualnya bertapa, sedangkan Bubuksah bertapa dengan hatinya. Bubuksah bertapa dengan keikhlasannya bahwa apa yang ia miliki sebenarnya adalah titipan. Dan titipan itu harus dijaga dengan baik dan dimanfaatkannya sebaik mungkin.

Dengan sangat arif nenek moyang kita memberikan “luhuring tuladha” melalui kisah bubuksah gagang aking. Jadi universal. Dan kisah ini juga merupakan sebuah pelajaran bagi kita bahwa kulit luar saja tidaklah mencerminkan isinya. Karena itu dalam menilai seseorang tak cukup kita melihat ketampanannya, kekayaannya, atau kemasyurannya. Terpenting adalah hatinya. Kiranya semangat Bubuksah ini akan tetap relefan untuk era globalisasi seperti saat ini. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan, lebih dari itu pada masa lalulah kita mengambil pelajaran dan perenungan.

Mandalawangi, 19 maret 2009
Read More......

Senin, 16 Maret 2009

NGELMU KYAI PETRUK*


Berbeda dengan filsafat “barat”, yang berakar dari filsafat Yunani, filsafat Jawa tidak mau bersusah payah untuk berusaha menemukan apa kiranya “unsur zat terkecil yang tak bisa dibagi-bagi lagi yang membentuk suatu benda”. Bagi orang Jawa itu adalah urusan “Sing Ngecet Lombok”. Bukan bagian manusia memikirkannya

Filsafat Barat dan Jawa pun memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang suatu hal. semisal, Plato yang punya keyakinan : ada kuda sempurna di alam kekal yang menjadi blue print kuda-kuda yang kita lihat sekarang. Maka bagi orang Jawa yang penting adalah bagaimana merawat kuda dengan baik. Dan untuk menjadi seorang kusir yang terampil kita memang tidak perlu tahu “apakah memang ada kuda sempurna di alam kekal”.

Filsafat Jawa bicara tentang hal-hal yang sederhana, tapi sangat mendasar dan mendalam. Orang Jawa merasa tak perlu pusing memikirkan apakah bumi itu bulat atau kotak, tapi yang penting bagi mereka adalah bagaimana manusia menjaga keselarasan dengan alam semesta, dan terlebih lagi dengan sesamanya : “uripku aja nganti duwe mungsuh”.

Filsafat Jawa menekankan kehidupan yang sederhana, dan menginsyafi bahwa harta benda tidaklah memberikan kebahagiaan yang hakiki : “sugih durung karuan seneng, ora duwe durung karuan susah”. Meski demikian manusia tetaplah harus bekerja : “urip kudu nyambut gawe”, dan mengetahui kedudukannya dalam tatanan masyarakat.

Manusia Jawa percaya bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri : “pipi padha pipi, bokong padha bokong”. Kebijaksanaan kuno ini bahkan terbukti selaras dengan ilmu manajemen modern yang mengajarkan bahwa setiap individu harus memilih profesi yang cocok untuk dirinya. Setelah menemukan bidang profesi yang cocok, hendaknya kita fokus pada bidang itu. Sebab jika kita tidak fokus akhirnya tak satu pun pekerjaan yang terselesaikan : “urip iku pindha wong njajan, kabeh ora bisa dipangan, miliha sing bisa kepangan”.

Berikut ini kutipan lengkap salah satu pitutur luhur yang sering disampaikan ki dalang dalam pertunjukan wayang melalui media tokoh Petruk :

NGELMU KYAI PETRUK

Kuncung ireng pancal putih
Swarga durung weruh
Neraka durung wanuh
Mung donya sing aku weruh
Uripku aja nganti duwe mungsuh.

Ribang bumi ribang nyawa
Ana beja ana cilaka
Ana urip ana mati.
Precil mijet wohing ranti
Seneng mesti susah
Susah mesti seneng
Aja seneng nek duwe
Aja susah nek ora duwe.

Senenge saklentheng susahe sarendheng
Susah jebule seneng
Seneng jebule susah
Sugih durung karuan seneng
Ora duwe durung karuan susah
Susah seneng ora bisa disawang
Bisane mung dirasaake dhewe.

Kapiran kapirun sapi ora nuntun
Urip aja mung nenuwun
Yen sapimu masuk angin tambanana
Jamune ulekan lombok, bawang
Uyah lan kecap
Wetenge wedhakana parutan jahe
Urip kudu nyambut gawe.

Pipi ngempong bokong
Iki dhapur sampurnane wong
Yen ngelak ngombea
Yen ngelah mangana
Yen kesel ngasoa
Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi
Bokong padha bokong
Pipi dudu bokong.
Onde-onde jemblem bakwan
Urip iku pindha wong njajan
Kabeh ora bisa dipangan
Miliha sing bisa kepangan
Mula elinga dhandhanggulane jajan :

Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji
Le ngaji nyang bejadah
Gedang goreng iku rewange
Kepethuk si alu-alu
Nunggang danglem nyengkelit lopis
Utusane tuan jenang
Arso mbedhah ing mendhut
Rame nggennya bandayudha
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji
Patinira kecucuran

Ki Daruna Ni Daruni
Wis ya, aku bali menyang giri
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi
Lho ratu kok dadi pak tani?

*(diunduh dan diolah kembali dari www.prabuwayang.wordpress.com. Oleh penulis asli di kutip dari buku “Air Kata-kata”, karya Sindhunata, Galang Press, 2003, Yogyakarta, hal. 110.)

Mandalawangi, 15 Maret 2009

Read More......
.:: TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA * SEMOGA BERMANFAAT UNTUK ANDA SEMUA * WASSALAMU'ALAIKUM ::.