
Waktu itu, sekitar bulan November 2008. Saya mengikuti sebuah kompetisi sastra di UNESA. Lalu saat waktu senggang menunggu giliran kompetisi saya dan teman-teman saya jalan-jalan ke Super Mall Pakuwon Indah. Seperti biasa, saya langsung mencari toko buku. Kebetulan di Pakuwon ada toko buku Gramedia. Akhirnya saya dan teman-teman menghabiskan waktu mencari buku di situ. Dan saat saya melewati etalase buku-buku sejarah saya tertarik dengan buku bersampul hijau dengan ilustrasi kartun yang menarik. Pertama saya heran. Mengapa ada komik di etalase buku sejarah? Apa mungkin petugasnya salah menempatkan? Karena rasa penasaran itu saya mengambil satu eksemplar yang disediakan untuk dibaca. Judulnya “TIGA KERAJAAN; Kerja Sama, Strategi, dan Kebijaksanaan”.
Begitu saya buka, saya langsung tertarik dengan isinya. Sebuah legenda kuno Tiongkok. Merupakan repro dari sebuah novel klasik Tiongkok kuno yang disusun menjadi novel grafis yang kaya ilustrasi. Sekilas, saya lihat ilustrasinya begitu hidup. Karena tambah penasaran dan ingin membacanya, saya putuskan untuk membelinya. Jarang sekali ada buku seperti ini.
The Three Kingdoms (Tiga Kerajaan) adalah salah satu karya klasik monumental dari peradaban kuno Tiongkok yang paling terkenal. Merupakan satu dari empat karya klasik Tiongkok yang termasyur (karya lainnya adalah : Dream of the Red Chamber-Mimpi Kamar Mereah, Journey to the West-Perjalanan ke Barat, dan Water Margin-Tepi Air). Pertama kali ditulis menjadi sebuah kronik sejarah tentang transisi antara Dinasti Han dan Dinasti Jin oleh Chen Shou. Ditulis pada awal pemerintahan Dinasti Jin berjudul Records of the Three Kingdoms. Lalu pada masa Dinasti Ming kronik ini digubah lagi oleh Luo Guanzhong (1330-1400) seorang penulis novel dan naskah drama terkemuka pada masa Dinasti Yuan terakhir dan awal Dinasti Ming. Oleh Luo Guanzhong Records of the Three Kingdoms ditambahkan dengan catatan-catatan sejarah, resmi dan tidak resmi, dan juga dongeng-dongeng. Muncullah dari tangan Luo Guanzhong ini The Three Kingdoms- Tiga Kerajaan dengan komposisi 70% kisah nyata dan 30% fiksi.
Dan di zaman modern ini wiracerita Tiga Kerajaan yang masyur itu susun lagi menjadi sebuah novel grafis yang menarik oleh Huang Qingrong, ilustrator kelahiran Malaysia. Bagi pembaca yang merasa cepat bosan membaca sejarah, saya pastikan anda akan menjadi betah berlama-lama memelototi ilustrasi Qingrong yang begitu hidup dan natural. Dan dengan cerdik Huang Qingrong menampilkannya dalam sepuluh fragmen cerita yang terkenal di Tiongkok sana. Diawali pada masa-masa perang saudara pada masa akhir Dinasti Han hingga munculnya kaisar pertama dinasti Jin yang menyatukan Tiga Kerajaan.
Diawali dengan cerita tentang sumpah persaudaraan di kebun persik oleh tiga pendiri kerajaan Shu, merekalahLiu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei. Lalu dijelaskan pula dengan latar belakang pendiri kerajaan Wei yang kelam, Cao-Cao. Pada awal-awal cerita tiga bersaudara ini berkompetisi dengan Cao-cao yang licik. Konflik ini semakin meruncing ketika muncul Sun Quan yang mendeklarasikan Kerajaan Wu. Liu Bei kemudian ikut pula mendirikan kekaisaran Shu dan Cao-Cao mendirikan Kerajaan Wei. Saat inilah tampil seorang pemikir ulung yang menjadi simbol kebijaksanaan Tiongkok selama berabad-abad, Zhuge Liang. Ia menjadi penasihat Liu Bei dalam berbagai pertempuran. Kisah kecerdikan Zhuge Liang ini begitu terasa ketika pembaca masuk dalam salah satu fragmen paling terkenal dari kisah Tiga Kerajaan, itulah kisah Pertempuran Tebing Merah.
Perlahan tapi pasti, Zhuge Liang mengalahkan satu persatu musuh kerajaan Shu. Sampai akhirnya cerita memasuki masa-masa berkabung dengan matinya tokoh-tokoh utama dalam wiracerita ini. Kemudian ketika Wu sudah kehilangan supremasinya, tinggallah Zhuge liang bertempur sendiri melawan Wei yang juga mulai melemah. Saat Liu Bei meninggal, ia mempercayakan nasib Shu dan putranya, Ah Dou, kepada Zhuge Liang. Dan pada saat itulah Shu kian menunjukkan keunggulannya. Namun semua surut dengan cepatnya ketika Zhuge Liang mangkat dan Ah Dou, yang masih terlalu muda dan lebih suka bersenang-senang menggantikannya. Shu benar-benar hancur ketika Sima Zhao, anak dari jendral besar Wei Sima Yi, berhasil menggerogoti Shu dengan politiknya yang licik. Wu sudah tak bisa bersuara lagi, Shu sudah dalam genggaman Sima Zhao. Dan akhirnya keluarga Sima semakin berkuasa ketika anak Sima Zhao, Sima Yan, merebut tahta dari kaisar Wei yang lemah. Muncullah Sima Yan sebagai kaisar yang menyatukan Tiga Kerajaan dalam genggaman Dinasti Jin.
Setelah membacanya berkali-kali saya begitu tertarik dengan fragmen Pertempuran Tebing Merah. Penuh intrik dan strategi perang yang mengagumkan. Mungkin daya tarik terbesar kisah ini adalah pada fragmen Tebing Merah ini. Dan secara keseluruhan saya benar-benar menikmati liku-liku kisah ini. Jalan cerita yang sulit ditebak plus deskripsi yang keren menjadi daya tarik tersendiri kisah Tiga Kerajaan ini. Namun begitu tetap saja ada kelemahan dalam novel grafis ini. Saya mengkritisi terutama pada penggambaran adegan perang yang menunjukkan pembantaiaan dan perkelahiannya. Huang Qingrong menampilkan semua itu secara gamblang dan terbilang sadis. Agaknya hal ini bisa membuat pembaca yang masih dibawah umur harus dibimbing dalam mencermati isi novel ini. Kekurangan lainnya adalah pada sisi penceritaan yang kadang diramu dengan kalimat-kalimat yang membingungkan dan di beberapa tempat terasa alurnya meloncat-loncat dan tidak jelas. Huang Qingrong juga kurang konsisten dengan tempo ceritanya. Terasa lambat dan membosankan dibagian awal lalu meloncat-laoncat dan terlalu cepat ditengah-tengah. Apalagi akhir ceritanya kurang memberi greget karena dibuat datar-datar saja.
Lepas dari itu semua novel grafis ini dengan caranya sndiri sangat potensial menarik pembaca dari berbagai segmen. Menjadikan kisah sejarah bukan lagi sesuatu yang membosankan dan kering. Karya ini sangat pas kiranya menjadi inspirasi bagi penulis-penulis Indonesia yang masih berkutat pada novel konvensional yang penuh teks. Selamat membaca.
Mandalawangi, 15 Mei 2009
Rabu, 20 Mei 2009
TENTANG TIGA KERAJAAN
Label:
Buku Bagus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar