.:: ASSALAMU'ALAIKUM PEMBACA YANG BUDIMAN * SELAMAT MEMBACA CATATAN-CATATAN SEDERHANA INI ::.

Rabu, 11 Maret 2009

NOVEL YANG MELAWAN ARUS


Judul : Student Hijo
Penulis : Marco Kartodikromo
Penerbit : Yayasan Aksara Indonesia (cetakan pertama, 2000)
Tebal : 212 halaman

Pertama kali dipublikasikan tahun 1918 dalam bentuk cerbung pada surat kabar Sinar Hindia. Barulah pada tahun 1919 novel ini diterbitkan oleh NV Boekhandel en Drukken, MASMAN & STROINK, Semarang. Baru kemudian dicetak ulang oleh Yayasan Bentang Budaya (2000) dan Yayasan Aksara Indonesia (2000). Untuk novel yangb saya ulas berdasarkan terbitan Yayasan Aksara Indonesia. Awalnya saya membelinya hanya karena desain covernya yang oldies. Tapi setelah membacanya sampai habis, memang novel ini cukup bagus dan “melawan arus” jika dibandingkan novel seangkatannya yang kebanyakan terbitan Balai Pustaka. Jika novel-novel Balai Pustaka berbicara tentang benturan budaya barat dan timur dengan gaya romantiknya yang khas, maka novel ini justeru menonjolkan latar timurnya (budaya jawa) yang kental.


Novel ini berkisah tentang Hijo anak Raden Potronoyo, bangsawan dari Solo, yang akan disekolahkan ke Belanda. Awalnya rencana ini ditentang oleh ibu Hijo, Raden Nganten Potronoyo, tapi akhirnya Hijo tetap berangkat ke Belanda. Sebenarnya Hijo pun merasa berat untuk pergi karena ia akan sangat rindu pada R. A. Biru, tunangnnya. Di Belanda Hijo menyadari bahwa Negeri yang menjajahnya bukanlah negeri super, sama saja dengan negeri merdeka lainnya. Sehingga ia tidak canggung untuk berhubungan dengan Betje, putri ibu kosnya di Belanda yang akhirnya membuatnya menyesal.

Meski begitu, hati Hijo tetap terkenang akan RA Biru dan RA Wungu, putri bupati Jarak kenalannya. Sementara itu di Hindia Belanda, keluarga Potronoyo berkenalan dengan keluarga bupati Jarak. Dan secara kebetulan RA Wungu dan R Wardoyo, putra bupati tersebut juga mengenal Hijo. Dan seorang Controleur bernama Willem Walter jatuh cinta dengan Wungu bahkan sempat melamarnya tapi ditolak Wungu karena kecintaannya pada Hijo. Saat Walter mengambil cuti pulang ke Belanda, ia menyempatkan diri berkenalan dengan Hijo yang diketahuinya dari Wungu. Berkat bantuan Hijo Walter akhirnya mengenal Betje.

Pada akhirnya rumus perjodohan berubah. Biru akhirnya dinikahkan dengan Wardoyo dan Hijo dengan Wungu. Dengan cara yang romantis Mas Marco mengakhiri cerita pada bab XX seperti kutipan berikut :

Hijo telah kawin dengan RA Wungu, dan hidup senang menjadi jaksa di Jarak.
Wardoyo sudah jadi regent di Jarak menggantikan papanya, pun dia hidup rukun di dalam kabupaten dengan RA Biru.
Walter sudah kembali dari verlof menjadi asisten residen di Jarak, dan telah mempunyai istri, yaiyu Betje.
Dan onwijzeres nona Jet Roos telah berkawin dengan administrateur Bouren, sobat karibnya Willem Walter, dan sama bertempat di Jarak.

Jika anda jeli membaca, maka anda akan mendapat kesan bahwa novel ini sangatlah radikal. Secara menarik Mas Marco menyisipkan unsur-unsur politik dalam jalinan cerita yang cukup kompleks. Terasa sekali konflik internal dalam karakter setiap tokohnya. Seperti Hijo yang selalu teringat akan Biru dan Wungu meskipun ia berhubungan pula dengan Betje yang seorang gadis Belanda. Suatu gambaran tentang nasionalisme yang coba di tumbuh kembangkan saat itu. Atau Controleur Walter yang simpati pada perjuangan para bumi putera. Ia dengan keras membantah tuduhan-tuduhan Sergeant Djepris yang merendahkan bangsa Hindia Belanda. Rasanya Mas Marco ingin menunjukkan (atau mungkin berharap) bahwa bangsa Belanda pun masi punya “hati”. Atau tentang Wardoyo yang juga aktif di Sarekat Islam. Semua terjalin dengan rapi. Konflik itu akhirnya mengerucut dalam beberapa klimaks, tidak hanya satu klimaks, dengan orientasi masing-masing tokohnya. Menarik. Dan bagian yang paling menunjukkan bahwa novel ini memang novel perjuangan adalah sepucuk brosur yang diberikan Walter kepada Djepris. Isi brosur ini, kalau saya bilang, adalah suara perlawanan Mas Marco sendiri yang terpendam. Kemungkinan brosur inilah yang menjadi inti keseluruhan novel, hanya saja sedikit tersamar dengan klimaks-klimaks yang kompleks.

Bagi saya ada tiga hal mendasar yang sedikit mengganggu bagi pembaca yang kurang sabar. Pertama, tentu saja dalam hal pemakaian bahasa. Novel ini masih menggunakan gaya bahasa melayu yang kental, agaknya kurang familiar lagi untuk ukuran saat ini. Kedua, tempo. Di awal tempo novel ini terasa lambat namun ketika sampai di tengah hingga akhir novel tempo menjadi agak cepat. Yang satu ini membuat pembaca sedikit bosan dan bisa saja pembaca kehilangan kesan di akhir cerita. Ketiga, adanya perubahan pertunangan tanpa adanya konflik berarti antara subjeknya (Hijo, Biru, Wungu, dan Wardoyo). Justeru hal ini di sikapi dengan suka hati. Terasa janggal karena di awal cerita dikisahkan bahwa antara Hijo dan Biru sudah terikat cinta yang kuat.

Di balik kekurangan-kekurangan kecil itu, novel ini dengan sangat baik telah mencatat hiruk-pikuk suasana perjuangan bumi putera pada masa awal. Cinta, pendidikan, politik, sosio-kultur, dan bahkan semangat nasionalisme terjalin rapi dalam setiab babnya. Maka tidak berlebihan jika Nova Christina/Litbang KOMPAS memberi komentar pada rubrik pustakaloka (KOMPAS, Sabtu, 21 September 2002) bahwa, “Novel ini sebetulnya sudah membuka suatu soal bahwa kesusastraan bukan sekadar penghibur, tetapi suatu wacana politik dan sosial yang mengemban tugas menembus ruang-ruang publik. Pada gilirannya kesusastraan adalah jalan menuju pembebasan dari belenggu ketertindasan.” Selamat membaca.

Mandalawangi, 10 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.:: TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA * SEMOGA BERMANFAAT UNTUK ANDA SEMUA * WASSALAMU'ALAIKUM ::.